Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk secara resmi mengungkapkan dampak penerapan kebijakan pembatasan komisi maksimal layanan ojek online menjadi 8% sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 terhadap kinerja keuangan perusahaan pada Kamis (30/7/2026).
Dilansir dari Katadata, Direktur Utama Grup GoTo Gojek Tokopedia Hans Patuwo mengakui bahwa penyesuaian aturan tersebut membawa tantangan tersendiri bagi bisnis pengantaran orang yang berkontribusi sebesar 7% terhadap total pendapatan bersih grup.
Manajemen perusahaan menyatakan bahwa efek dari perubahan regulasi ini akan tercermin secara lebih nyata pada laporan keuangan kuartal ketiga meskipun kondisi bisnis dilaporkan tetap stabil pasca satu bulan kebijakan berjalan.
Sebagai langkah mitigasi terhadap potensi penurunan pendapatan di segmen On-demand Services, perusahaan kini beralih memprioritaskan pengembangan produk yang lebih terjangkau oleh pasar massal.
Upaya efisiensi ini terlihat dari pertumbuhan jumlah pesanan yang selesai pada kuartal II sebesar 3% secara tahunan dan 8% secara kuartalan.
Selain itu, perusahaan mencatat peningkatan margin pada layanan pengiriman seperti GoSend dan GoFood yang kini mencapai 2,1% dari sebelumnya 1,8%.
Segmen mobilitas seperti GoRide dan GoCar juga menunjukkan perbaikan margin yang naik signifikan menjadi 5% dibandingkan dengan capaian 3% pada tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini didorong oleh peningkatan jumlah pelanggan affluent yang memiliki tingkat pengeluaran sangat tinggi sebesar 21% dibandingkan periode tahun lalu.
Secara keseluruhan, pendapatan bersih segmen On-demand Services tercatat tumbuh ke angka Rp 3,6 triliun dengan EBITDA yang disesuaikan melonjak 41% menjadi Rp 464 miliar.
Keberhasilan ekosistem GoTo ditopang oleh kinerja bisnis fintech GoPay yang kini berhasil membukukan EBITDA sebesar Rp 481 miliar, melampaui capaian segmen ojek online.
Perusahaan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II 2026 yang menandai pencapaian laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih konsolidasi perusahaan secara tahunan tumbuh sebesar 31% menjadi Rp 5,7 triliun dengan EBITDA yang disesuaikan naik signifikan 137% menjadi Rp 1,01 triliun.
Nilai transaksi inti atau core GTV perusahaan juga dilaporkan meningkat sebesar 83% hingga mencapai angka Rp 164 triliun.
“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” kata Hans.
Pihaknya tetap mempertahankan target EBITDA grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.
Manajemen melakukan revisi target EBITDA segmen Gojek sepanjang tahun 2026 menjadi Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun dari proyeksi sebelumnya.
Penurunan target sebesar Rp 300 miliar tersebut secara eksplisit diakui sebagai dampak langsung dari penerapan batas komisi aplikasi sebesar 8%.
Sebagai kompensasi atas penurunan tersebut, target EBITDA bisnis fintech dinaikkan menjadi Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun.
Strategi penyeimbangan antar unit bisnis ini menjadi kunci utama perusahaan dalam menjaga target EBITDA konsolidasi tetap stabil di tengah perubahan regulasi pemerintah.
Ringkasan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengungkapkan bahwa kebijakan pembatasan komisi maksimal layanan ojek online menjadi 8% berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 telah menekan pendapatan perusahaan pada kuartal ketiga tahun 2026 di Jakarta.
Akibat regulasi tersebut, manajemen merevisi target EBITDA segmen Gojek turun sebesar Rp 300 miliar, namun tetap mempertahankan target EBITDA konsolidasi tahunan di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun dengan mengandalkan peningkatan kinerja pada unit bisnis fintech.
Meskipun menghadapi tantangan regulasi, perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II 2026 dan peningkatan pendapatan bersih konsolidasi sebesar 31% menjadi Rp 5,7 triliun, yang didorong oleh efisiensi operasional serta pertumbuhan pelanggan segmen atas.
