Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatat pergeseran fundamental dalam struktur bisnisnya pada kuartal II tahun 2026, di mana layanan teknologi keuangan GoPay kini resmi melampaui bisnis transportasi dan pengantaran sebagai kontributor laba terbesar perusahaan.
Dilansir dari Katadata, perubahan kinerja ini terlihat dari laporan EBITDA yang disesuaikan, yang menunjukkan bahwa unit bisnis fintech berhasil mencatatkan profitabilitas lebih tinggi dibandingkan divisi On-demand Services.
Perusahaan mencatat laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi dari bisnis GoPay mencapai Rp 481 miliar pada periode tersebut.
Angka ini melampaui perolehan EBITDA dari bisnis Gojek yang tercatat sebesar Rp 464 miliar dalam rentang waktu yang sama.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa kinerja kuat dari sektor keuangan digital menjadi indikator keseimbangan ekosistem perusahaan yang semakin matang.
“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” kata Hans dalam pernyataan tertulis, Kamis (30/7/2026).
Secara konsolidasi, perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 252 miliar pada kuartal II tahun ini, yang sekaligus menjadi capaian laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pertumbuhan pendapatan bersih perusahaan secara keseluruhan meningkat sebesar 31% secara tahunan menjadi Rp 5,7 triliun.
EBITDA yang disesuaikan secara grup turut melonjak sebesar 137% hingga mencapai angka Rp 1,01 triliun.
Nilai transaksi inti atau core GTV perusahaan tercatat naik 83% menjadi Rp 164 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kinerja unit GoPay didorong oleh peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan yang menyentuh angka 28,8 juta orang.
Jumlah transaksi pada layanan fintech tersebut melonjak drastis sebesar 91% menjadi 2,4 miliar transaksi secara total.
Nilai buku pinjaman dari lini bisnis keuangan ini juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 58% menjadi Rp 11 triliun.
Berbanding terbalik dengan pesatnya pertumbuhan fintech, kinerja bisnis On-demand Services mulai menunjukkan tren pelambatan dalam skala tahunan.
Pendapatan bersih dari layanan transportasi dan pengantaran tersebut tercatat mencapai Rp 3,6 triliun dengan pertumbuhan hanya sebesar 20%.
GTV untuk bisnis layanan transportasi dan pengantaran hanya tumbuh tipis 2% menjadi Rp 16,7 triliun dengan kenaikan jumlah pesanan sebesar 3%.
Ke depan, manajemen GoTo telah melakukan penyesuaian target EBITDA untuk mengantisipasi perubahan kebijakan komisi ojek online menjadi 8%.
Target EBITDA bisnis fintech ditingkatkan menjadi kisaran Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun dari proyeksi sebelumnya.
Sebaliknya, target EBITDA untuk bisnis On-demand Services diturunkan menjadi Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun.
Perubahan fokus ini mengisyaratkan bahwa strategi masa depan perusahaan akan lebih bertumpu pada efisiensi layanan transportasi serta ekspansi agresif di sektor keuangan digital.
Ringkasan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan pergeseran struktur bisnis pada kuartal II 2026, di mana layanan keuangan GoPay resmi melampaui divisi transportasi dan pengantaran (On-demand Services) sebagai kontributor laba utama perusahaan.
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang disesuaikan dari bisnis GoPay mencapai Rp 481 miliar, mengungguli perolehan EBITDA unit Gojek yang tercatat sebesar Rp 464 miliar pada periode yang sama.
Kinerja ini didorong oleh pertumbuhan jumlah pengguna aktif bulanan GoPay sebanyak 28,8 juta orang dan lonjakan transaksi sebesar 91%, yang sekaligus membantu perusahaan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 252 miliar serta kenaikan pendapatan bersih grup secara tahunan sebesar 31% menjadi Rp 5,7 triliun.
