Singapura Cari Sumber Energi Baru Melalui Nuklir Dan Impor

Menteri Negara Bidang Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang saat memberikan keterangan pers terkait strategi energi nasional.
Menteri Negara Bidang Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang menyoroti pentingnya diversifikasi energi nasional.

Singapura – Pemerintah Singapura tengah merancang strategi diversifikasi energi secara masif menyusul terganggunya pasokan gas alam cair akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah pada Selasa (21/7/2026).

Dilansir dari Katadata, Menteri Negara Bidang Perdagangan dan Industri Singapura Gan Siow Huang menyatakan bahwa ketergantungan negaranya terhadap pasokan energi fosil dari wilayah konflik tersebut menjadi ancaman serius bagi ketahanan listrik nasional.

Baca Juga

“Kita telah melihat bagaimana konflik baru-baru ini di Timur Tengah telah menyebabkan gangguan pasokan minyak dan gas,” kata Gan.

Dia menjelaskan bahwa dampak tersebut sangat terasa karena mayoritas pembangkit listrik di Singapura masih sangat bergantung pada pasokan gas dari Timur Tengah.

Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, Singapura kini mulai melirik pemasok alternatif dari negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, hingga sejumlah kawasan di Afrika.

Selain mengandalkan impor gas, pemerintah setempat juga menggenjot pemanfaatan energi terbarukan melalui tenaga surya dengan target kapasitas mencapai 3 gigawatt.

“Sama seperti di Indonesia, kami memiliki iklim yang cukup kondusif untuk energi surya,” kata Gan.

Strategi diversifikasi lainnya melibatkan integrasi jaringan listrik lintas negara melalui skema ASEAN Power Grid dengan menggandeng mitra tetangga seperti Indonesia dan Malaysia.

Negara-negara anggota ASEAN saat ini dinilai menunjukkan keseriusan yang lebih tinggi dalam mewujudkan konektivitas jaringan listrik kawasan secara terintegrasi.

Singapura juga mulai melirik opsi pemanfaatan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang untuk memperkuat bauran energi nasional.

Proyeksi pengembangan energi nuklir ini diperkirakan membutuhkan waktu persiapan antara 10 hingga 15 tahun ke depan.

Tahap awal dari rencana tersebut dimulai dengan proses Tinjauan Terpadu Infrastruktur Nuklir oleh Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA-INIR.

Lembaga internasional tersebut nantinya akan menilai kesiapan institusi serta kapasitas pengetahuan Singapura terkait pengembangan program energi nuklir sipil.

Gan menegaskan bahwa negaranya sangat terbuka untuk menjalin kerja sama pengembangan teknologi energi nuklir dengan berbagai pihak, termasuk Indonesia.

Dia mengakui bahwa Indonesia saat ini memiliki keunggulan dalam hal pengalaman pengembangan kemampuan nuklir selama dua dekade terakhir dibandingkan Singapura yang masih berada di titik awal.

Ringkasan

Pemerintah Singapura tengah merancang strategi diversifikasi energi secara masif untuk memperkuat ketahanan listrik nasional akibat gangguan pasokan gas alam cair dari Timur Tengah pada Selasa (21/7/2026). Langkah ini diambil setelah konflik berkepanjangan di kawasan tersebut mengancam stabilitas pasokan energi fosil yang selama ini menjadi tumpuan utama pembangkit listrik Singapura.

Sebagai solusi jangka pendek dan menengah, Singapura mulai mencari pemasok gas alternatif dari Australia, Amerika Serikat, dan Afrika, serta menggenjot kapasitas energi surya hingga 3 gigawatt dan memperkuat integrasi jaringan listrik lintas negara melalui skema ASEAN Power Grid.

Untuk kebutuhan jangka panjang, Singapura mulai menjajaki pengembangan energi nuklir yang diperkirakan memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun, termasuk keterlibatan IAEA dalam meninjau kesiapan infrastruktur dan keterbukaan untuk menjalin kerja sama teknologi dengan negara lain, termasuk Indonesia.

Rekomendasi