Jakarta – Pendiri sekaligus Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, memberikan apresiasi terhadap rencana pemerintah membangun proyek 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai langkah strategis pertumbuhan energi bersih pada Kamis (30/7/2026).
Dilansir dari Katadata, mantan wakil menteri luar negeri tersebut menekankan bahwa keberhasilan ambisi besar ini sangat bergantung pada efektivitas implementasi di lapangan agar tidak berakhir sebagai program yang mangkrak.
Dino menyoroti pentingnya pembuktian nyata atas pengumuman ambisius yang telah disampaikan oleh pemerintah kepada publik.
“Kita menyambut pengumuman dan ambisinya, tetapi pertanyaannya adalah mari kita buktikan realisasinya,” kata Dino saat memberikan keterangan dalam acara Indonesia Net Zero Summit 2026.
Dia turut membandingkan pencapaian tersebut dengan keberhasilan Tiongkok yang mampu membangun kapasitas PLTS sebesar 200 GW hanya dalam kurun waktu enam bulan.
Menurutnya, negara tersebut memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam merealisasikan target pembangunan infrastruktur energi secara tepat waktu bahkan lebih cepat dari perencanaan awal.
Senada dengan pandangan tersebut, Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adiguna, menyatakan bahwa pemerintah perlu menyelaraskan rencana besar ini dengan target-target kecil yang bersifat jangka pendek.
“Oke 100 GW, tetapi perhatikan realisasi yang kecil kalau kita mau melihat perubahan yang nyata,” ujar Putra.
Dia menyarankan agar Indonesia lebih memperhatikan pola transisi energi yang telah berhasil diterapkan oleh negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Pemerintah sendiri melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa proses peletakan batu pertama proyek tersebut tengah dipersiapkan.
Rencana pembangunan ini merupakan bagian dari upaya transisi energi dan hilirisasi industri yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2029.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya telah membuka peluang investasi bagi perusahaan asal Tiongkok untuk mendukung pendanaan proyek tersebut.
Pemerintah juga berkomitmen untuk memperkuat industri panel surya domestik agar mampu membentuk rantai pasok yang terintegrasi secara nasional.
Beberapa program strategis lainnya yang sedang berjalan di Indonesia saat ini mencakup sejumlah inisiatif sebagai berikut:
- Program Danantara Housing Expo 2026 yang menghadirkan 200.000 hunian untuk mendukung target pemerintah membangun 3 juta rumah.
- Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol oleh BEC yang dijadwalkan mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2030.
- Penyesuaian target EBITDA perusahaan GOTO menjadi Rp 1,5 triliun sebagai dampak dari kebijakan komisi sebesar 8 persen.
Ringkasan
Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menekankan pentingnya realisasi nyata dalam proyek pembangunan 100 GW PLTS yang diumumkan pemerintah pada Kamis (30/7/2026) di Jakarta, agar ambisi energi bersih tersebut tidak berakhir mangkrak.
Dino menyoroti perlunya efektivitas implementasi di lapangan dengan merujuk pada keberhasilan Tiongkok yang mampu mencapai target infrastruktur energi secara tepat waktu, sementara pakar energi Putra Adiguna menyarankan pemerintah untuk menyelaraskan target besar tersebut dengan langkah-langkah konkret dalam jangka pendek.
Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan tengah mempersiapkan tahap peletakan batu pertama, dengan peluang investasi yang terbuka bagi perusahaan asal Tiongkok untuk mendukung target transisi energi yang diharapkan rampung pada tahun 2029.





