Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan implementasi program biodiesel B50 akan menekan volume ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia selama semester II pada Senin (3/8/2026).
Dilansir dari Katadata, kebijakan tersebut dipicu oleh lonjakan permintaan domestik terhadap CPO yang dialokasikan sebagai bahan baku utama biodiesel skala nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini belum menghitung besaran angka pasti mengenai penurunan volume ekspor tersebut.
Peningkatan serapan CPO untuk kebutuhan energi di dalam negeri secara otomatis akan mengurangi ketersediaan komoditas tersebut untuk pasar internasional.
“Kalau nanti B50 menyerap lebih banyak CPO untuk kebutuhan dalam negeri, tentu ada potensi ekspor tertahan, tetapi kami belum menghitung secara spesifik dampaknya karena BPS tidak melakukan forecasting,” kata Ateng.
Data menunjukkan bahwa hingga semester I tahun ini, ekspor CPO nasional sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, laju pertumbuhan ekspor tersebut kini terpantau mulai melambat akibat dinamika pasar dan perubahan kebijakan energi di dalam negeri.
Beberapa poin penting mengenai dampak program B50 terhadap industri sawit meliputi:
- Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI memprediksi ekspor sawit RI akan menyusut signifikan pada tahun 2026 seiring peningkatan serapan domestik.
- Hasil riset peneliti Universitas Padjadjaran menyebutkan bahwa campuran B25 sebenarnya lebih ideal dibandingkan dengan target B50 untuk kondisi di Indonesia.
- Sejumlah kajian akademis menyoroti risiko lingkungan dengan menyebutkan B50 berpotensi meninggalkan utang karbon hingga 122 tahun.
Secara makro, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Juni 2026 mencapai US$ 135,70 miliar.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 4,13% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun lalu.
Sektor ekspor nonmigas tetap menjadi penopang utama neraca perdagangan dengan total nilai mencapai US$ 128,55 miliar.
Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut didorong oleh performa kuat komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati, besi dan baja, serta logam mulia dan perhiasan.
Ke depan, dinamika permintaan global serta percepatan kebijakan hilirisasi industri di dalam negeri akan menjadi penentu utama kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.
Pemerintah diharapkan mampu menyeimbangkan kebutuhan energi domestik dengan target devisa yang dihasilkan dari pasar ekspor komoditas unggulan.
BPS menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau pergerakan data perdagangan untuk melihat sejauh mana kebijakan B50 memengaruhi neraca ekspor nasional secara riil.
Ringkasan
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan implementasi program biodiesel B50 akan menekan volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia selama semester II tahun 2026 akibat meningkatnya kebutuhan bahan baku domestik.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa meskipun belum ada perhitungan spesifik, pengalihan konsumsi CPO untuk energi dalam negeri secara otomatis akan mengurangi ketersediaan komoditas tersebut untuk pasar internasional.
Kebijakan ini diperkirakan akan memengaruhi tren ekspor nonmigas nasional yang sebelumnya mencatatkan kinerja positif dengan nilai US$ 128,55 miliar pada semester I tahun 2026, di tengah berbagai sorotan akademis mengenai risiko lingkungan dan efektivitas campuran biodiesel tersebut.





