Hormuz, Bisnistalk.com – Serangan terhadap sebuah kapal tanker pada Sabtu (27/6) kembali memicu kekhawatiran atas keamanan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Insiden di perairan strategis itu terjadi di tengah memanasnya hubungan Amerika serikat (AS) dan Iran, setelah sejumlah serangan serupa dilaporkan dalam beberapa hari terakhir.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau united Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengeluarkan laporan awal terkait kejadian itu.
UKMTO menyebut seluruh awak kapal selamat dan tidak ada laporan kerusakan lingkungan. Meski begitu, insiden tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran atas gangguan lanjutan di jalur pelayaran yang padat itu.
Hingga kini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Iran menyerang sebuah kapal pada kamis (25/6) di perairan dekat Oman, saat kapal itu berupaya meninggalkan kawasan Teluk Arab.
Rangkaian serangan itu, seperti dikutip dari Reuters, menunjukkan konflik iran berkembang tanpa arah yang jelas.
Padahal, teheran dan Washington sebelumnya telah mencapai kesepakatan sementara untuk membuka jalan menuju perjanjian akhir guna mengakhiri konflik.
Kondisi ini membuat jalur diplomasi berada dalam posisi rentan,karena insiden di laut dapat dengan cepat mengganggu momentum perundingan
.Sementara itu, Bahrain menuduh Iran melancarkan serangan menggunakan drone terhadap kerajaan Arab itu pada Sabtu (27/6).
Tuduhan tersebut muncul tak lama setelah iran mengumumkan telah menargetkan fasilitas militer AS sebagai balasan atas serangan udara yang dilakukan Amerika pada malam sebelumnya.
Pernyataan kedua pihak menunjukkan aksi saling serang masih terus berlangsung. Situasi itu memperlihatkan belum adanya tanda-tanda penurunan eskalasi di kawasan.
Serangan terhadap Bahrain juga menegaskan rapuhnya gencatan senjata dalam konflik Iran. ketegangan kian rumit setelah AS melancarkan serangan udara sebagai respons atas serangan drone Iran terhadap kapal yang mencoba keluar dari Selat Hormuz pada Kamis lalu.
Dengan pola aksi dan balasan yang terus bergulir, kawasan teluk kembali berada dalam tekanan keamanan tinggi.
Di tengah kondisi itu, badan maritim di bawah pengawasan Angkatan Laut AS menyatakan jalur pelayaran alternatif melalui Selat Hormuz di dekat pesisir Oman sedang diperluas agar bisa digunakan untuk lalu lintas kapal masuk dan keluar.
Pengumuman dari Joint Maritime Information Center itu menandakan AS berupaya menjaga arus pelayaran tetap terbuka meski situasi keamanan memburuk.
Iran sebelumnya menegaskan seluruh kapal yang melintas di Selat hormuz harus mematuhi perintahnya.
Teheran juga memperingatkan akan mulai mengenakan biaya transit bagi kapal-kapal yang melewati selat tersebut.
Sikap itu menunjukkan Iran ingin mempertahankan pengaruh atas jalur strategis tersebut sekaligus menambah tekanan terhadap kapal-kapal asing.
AS dan negara-negara Arab di kawasan Teluk menolak tuntutan itu. Mereka menegaskan Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional, meski sebagian wilayahnya berada dalam yurisdiksi teritorial Iran dan Oman.
Perbedaan pandangan ini menjadi salah satu sumber ketegangan yang terus berulang di kawasan.
Selat Hormuz memegang peran penting dalam distribusi energi global.
Sebelum ketegangan Iran dengan AS dan Israel meningkat hingga menjadi perang berskala luas pada akhir Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia yang diperdagangkan melalui laut melintasi jalur itu.
Gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut dapat berdampak langsung pada pasar energi dan rantai perdagangan internasional.
Situasi di selat itu kini tetap menjadi salah satu titik paling rawan dalam pertarungan pengaruh antara Iran dan AS.
Setiap insiden baru di kawasan tersebut berpotensi memicu reaksi berantai yang lebih luas, baik terhadap keamanan pelayaran maupun stabilitas pasokan energi global.





