Jakarta – Saham emiten nikel milik Harita Group, yakni PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), diproyeksikan akan menerima suntikan likuiditas tambahan setelah resmi masuk sebagai konstituen dalam indeks LQ45 dan IDX80 pada Rabu (29/7/2026).
Dilansir dari Katadata, PT Trimegah Bangun Persada Tbk dan PT Indika Energy Tbk (INDY) terpilih masuk dalam jajaran indeks LQ45 berdasarkan hasil evaluasi berkala yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia.
Perubahan susunan konstituen ini sekaligus mendepak PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dari indeks tersebut.
Daftar baru ini akan berlaku efektif mulai tanggal 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026 mendatang.
LQ45 merupakan indeks yang menghimpun 45 emiten dengan tingkat likuiditas tertinggi serta kapitalisasi pasar yang besar di pasar modal Indonesia.
Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai masuknya kedua emiten tersebut menjadi katalis positif bagi radar investor institusi.
“Masuknya INDY dan NCKL ke dalam indeks LQ45 menjadi sinyal positif yang secara otomatis memperluas jangkauan kedua emiten ini ke dalam radar investor institusi,” kata Azharys Hardian.
Menurutnya, penyesuaian indeks ini berpotensi memicu arus dana masuk atau passive inflow dari reksa dana indeks maupun exchange traded fund yang menjadikan LQ45 sebagai acuan investasi.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyatakan bahwa sentimen ini meningkatkan visibilitas emiten di mata pelaku pasar.
Elandry Pratama menambahkan bahwa dampak dari perubahan indeks ini umumnya lebih terasa dalam jangka pendek bagi pergerakan harga saham.
Terkait PT Indika Energy Tbk, ia menilai transformasi bisnis perseroan dari sektor batu bara menuju grup energi telah membuahkan diversifikasi pendapatan yang baik.
Risiko utama bagi perusahaan tersebut tetap datang dari volatilitas harga batu bara global serta kebutuhan belanja modal yang cukup tinggi.
Khusus untuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk, Azharys Hardian menyoroti keuntungan ganda karena emiten tersebut juga berhasil menembus indeks IDX80.
Konstituen IDX80 menjadi aset dasar yang memenuhi syarat bagi penerbitan Waran Terstruktur di pasar modal domestik.
Kinerja fundamental PT Trimegah Bangun Persada Tbk diprediksi akan membaik pada semester kedua tahun ini seiring rampungnya sejumlah proyek strategis.
Proyek yang dimaksud mencakup fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace dengan kapasitas 65.000 ton feronikel per tahun serta fasilitas produksi kapur tohor.
Investor tetap diminta untuk memperhatikan risiko fluktuasi harga nikel dunia serta perkembangan permintaan dari industri kendaraan listrik.
Korea Investment Sekuritas Indonesia memberikan target harga Rp 3.200 untuk saham PT Indika Energy Tbk dan Rp 1.000 untuk saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Elandry Pratama memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 2.800 untuk PT Indika Energy Tbk dan Rp 1.350 untuk PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Ia menegaskan bahwa masuknya suatu saham ke indeks utama hanyalah katalis tambahan dan bukan satu-satunya dasar penentu keputusan investasi bagi pelaku pasar.
Ringkasan
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) resmi masuk sebagai konstituen indeks LQ45 dan IDX80 mulai 3 Agustus 2026, yang diproyeksikan akan meningkatkan likuiditas serta minat investor institusi terhadap saham kedua emiten tersebut.
Masuknya emiten ke dalam indeks LQ45, yang merupakan kumpulan 45 saham dengan likuiditas tertinggi di Bursa Efek Indonesia, berpotensi memicu arus dana masuk (passive inflow) dari reksa dana indeks maupun exchange traded fund (ETF) yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan investasi.
Perubahan susunan konstituen ini menggantikan posisi PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dengan para analis menekankan bahwa sentimen ini merupakan katalis positif jangka pendek yang didukung oleh perbaikan fundamental serta diversifikasi bisnis masing-masing perusahaan.





