Jakarta – Nilai tukar rupiah mengalami volatilitas pada awal perdagangan Rabu (12/8/2026) dengan sempat menguat tipis sebelum akhirnya berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah ketidakpastian pasar global.
Dilansir dari Katadata, mata uang Garuda sempat dibuka pada level Rp 17.851 per dolar AS, namun hingga pukul 09.08 WIB posisinya terkoreksi ke level Rp 17.874 per dolar AS atau melemah 0,7 persen.
Kondisi ini menyusul penutupan perdagangan sebelumnya di mana rupiah sempat melemah 0,59 persen ke posisi Rp 17.861 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai pergerakan mata uang domestik cenderung konsolidatif akibat pengaruh dinamika geopolitik di Timur Tengah yang memberikan sinyal beragam bagi para pelaku pasar.
Pasar saat ini tengah memantau perkembangan proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang dilaporkan menunjukkan kemajuan positif dari wilayah Pakistan.
Di sisi lain, sentimen positif tersebut masih tertahan oleh ketegangan terkait akses di Selat Hormuz yang menurut otoritas Iran belum akan dibuka sepenuhnya sebelum berbagai persyaratan terpenuhi.
“Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi,” kata Lukman.
Selain faktor geopolitik, fokus utama investor kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan akan keluar pada malam hari nanti.
Data ekonomi tersebut menjadi krusial karena akan memberikan arahan lebih jelas mengenai kebijakan suku bunga acuan yang akan diambil oleh The Federal Reserve ke depannya.
Para pelaku pasar memilih untuk mengambil sikap wait and see atau menahan diri dalam melakukan transaksi besar guna mengantisipasi volatilitas yang mungkin terjadi setelah data inflasi dirilis.
Berdasarkan proyeksi teknikal, rupiah diprediksi akan bergerak dalam rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.850 per dolar AS sepanjang sisa waktu perdagangan hari ini.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah melemah 0,7 persen ke level Rp 17.874 per dolar AS pada perdagangan Rabu (12/8/2026) pagi, akibat sikap pelaku pasar yang menahan diri (wait and see) menanti rilis data inflasi Amerika Serikat.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa pergerakan mata uang domestik saat ini bersifat konsolidatif karena dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait status Selat Hormuz dan proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Data inflasi AS yang akan dirilis malam ini menjadi faktor krusial bagi investor karena akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, dengan proyeksi pergerakan rupiah sepanjang hari ini berada pada rentang Rp 17.750 hingga Rp 18.850 per dolar AS.
