Rupiah Berpeluang Menguat IHSG Melemah Pada Sesi I

Jakarta, Bisnistalk.com – Pergerakan rupiah pada awal perdagangan Selasa disebut masih mendapat dorongan dari membaiknya selera risiko investor global, terutama setelah tekanan terhadap yen Jepang dan turunnya harga minyak dunia.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan mata uang Garuda berpeluang melanjutkan penguatan di tengah pergeseran minat pasar ke aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

Rully menilai rupiah pada perdagangan hari ini berpotensi bergerak di kisaran Rp17.820 hingga Rp17.870 per dolar AS.

Ia menjelaskan bahwa penguatan tersebut ditopang sejumlah faktor eksternal, mulai dari meningkatnya minat pelaku pasar terhadap aset emerging market, pelemahan yen, penurunan harga minyak ke sekitar 70 dolar AS per barel, hingga indeks dolar yang mulai terkoreksi.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan kembali menguat pada kisaran Rp 17.820 hingga Rp 17.870 per dolar AS. Penguatan dipengaruhi faktor global berupa meningkatnya selera risiko (risk on) pelaku pasar terhadap aset emerging market setelah yen melemah, tren harga minyak turun hingga kisaran 70 dolar AS per barel, serta indeks dolar mulai melemah,” ujarnya dikutip ANTARA di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Meski prospeknya menguat, rupiah pada Selasa pagi masih dibuka melemah. Mata uang ini turun 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.883 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.

Pergerakan awal itu menunjukkan pasar masih bereaksi terhadap dinamika global yang belum sepenuhnya stabil.

Mengutip Xinhua, yen Jepang justru jatuh ke level terendah terhadap dolar AS dalam hampir 39 tahun terakhir. Tekanan terhadap yen dipicu ekspektasi bahwa suku bunga AS masih berpotensi naik, sehingga mata uang Jepang makin terhimpit dalam perdagangan global.

Dalam transaksi di New York, yen sempat merosot ke kisaran 161,90 per dolar AS. Level itu menjadi yang terlemah sejak Desember 1986, sekaligus menegaskan kuatnya tekanan jual terhadap aset safe haven tersebut.

Rully mengatakan pelemahan yen memperlihatkan perubahan arah preferensi investor. Menurut dia, pelaku pasar mulai meninggalkan aset yang selama ini dianggap aman dan beralih ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham-saham teknologi yang tengah berada dalam momentum kenaikan.

“Kejatuhan yen terjadi karena pelaku pasar meninggalkan aset safe haven yang identik dengan yen dan beralih ke aset dengan yield lebih tinggi serta pasar saham yang didorong momentum kenaikan saham-saham perusahaan teknologi,” kata Rully.

Dari dalam negeri, minat investor terhadap obligasi pemerintah dan instrumen Bank Indonesia juga menjadi sinyal bahwa selera risiko sedang membaik. Penurunan imbal hasil obligasi dinilai mencerminkan permintaan yang tetap kuat di pasar surat utang domestik.

“Yield obligasi pemerintah Indonesia menunjukkan penurunan yang mengindikasikan minat pelaku pasar meningkat. Obligasi tenor lima tahun turun 5,2 basis points (bps) menjadi 7,08 persen, tenor 16 tahun turun 4,6 bps menjadi 7,3 persen, tenor enam hingga delapan tahun masing-masing turun 2,4 bps menjadi 7,1 persen dan 7,22 persen, sementara SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diburu,” ujarnya.

Di pasar saham, tekanan justru muncul lebih kuat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada perdagangan sesi I, Selasa (30/6/2026), ditutup melemah seiring terbatasnya risk appetite investor. Koreksi itu menandai kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan dan arus dana asing.

IHSG turun 141,04 poin atau 2,42 persen ke level 5.679,75. Adapun indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan ikut terkoreksi 13,72 poin atau 2,39 persen ke posisi 559,29. Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai pelemahan tersebut lebih banyak dipicu sentimen domestik.

“Pelemahan IHSG hari ini lebih didominasi sentimen domestik, terutama masih terbatasnya risk appetite investor,” ujar Elandry, Selasa.

Ia menjelaskan, kehati-hatian investor tercermin dari berlanjutnya net foreign sell. Pada perdagangan Senin (29/6/2026), aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp854,10 miliar. Selain itu, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets Index yang hanya sekitar 0,46 persen juga membuat arus passive flow ke pasar domestik menjadi lebih terbatas.

“Ditambah bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets Index yang saat ini hanya sekitar 0,46 persen sehingga aliran passive flow ke pasar domestik menjadi lebih terbatas,” ujar Elandry.

Menurut dia, investor saat ini cenderung menunggu perkembangan kebijakan domestik sambil mencermati arah pergerakan dana asing. Dalam situasi yang masih bergejolak, pelaku pasar juga memilih saham-saham dengan fundamental kuat dan tidak agresif masuk ke sektor yang berisiko tinggi.

“Di tengah volatilitas, investor juga lebih selektif dan fokus pada saham-saham dengan fundamental yang kuat,” ujar Elandry.

Ia menambahkan, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Namun, secara historis, Juli kerap menjadi bulan yang relatif positif bagi pasar saham domestik, sehingga peluang penguatan tetap terbuka bila sentimen pasar dan aliran modal mulai membaik.

“Sehingga, peluang penguatan tetap terbuka apabila market sentiment dan capital flow mulai membaik,” ujar Elandry.

Data perdagangan sesi I pada Selasa (30/6/2026) mencatat frekuensi transaksi saham mencapai 887.700 kali dengan volume 10,14 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp7,50 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 103 saham menguat, 618 saham melemah, dan 238 saham tidak berubah.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor bergerak di zona merah. Sektor barang baku mencatat penurunan paling dalam sebesar 4,31 persen, disusul sektor energi 3,32 persen dan sektor industri 2,68 persen.

Saham yang mencatat penguatan terbesar pada sesi tersebut adalah PEGE, AYLS, MGNA, BOBA, dan ENAK. Adapun saham yang mengalami pelemahan terdalam meliputi MMIX, PANS, RGAS, COCO, dan OILS.

Rekomendasi