Proyek Listrik Rp 3.000 Triliun Hadapi Tantangan, RUPTL Direvisi

Bisnistalk.com, – Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mengkaji ulang Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) untuk periode 2025–2034. Langkah revisi ini diambil sebagai respons terhadap tantangan signifikan yang muncul akibat gejolak global, yang berpotensi menghambat pelaksanaan proyek-proyek kelistrikan yang telah dirancang.

Menurut Satya Widya Yudha, seorang anggota Dewan Energi Nasional (DEN), RUPTL yang memiliki cakupan sepuluh tahun memang memerlukan penyesuaian berkala. Dinamika global, termasuk ketidakpastian ekonomi dan pasokan, menjadi faktor utama yang mendorong perlunya pembaruan rencana ini.

Baca Juga

“Membangun infrastruktur kelistrikan membutuhkan waktu yang cukup panjang, sehingga sangat rentan terhadap gejolak global,” ujar Satya dalam sebuah acara bincang-bincang energi. Ia menambahkan bahwa tantangan inilah yang mendasari keputusan untuk merevisi RUPTL dalam waktu dekat.

Selain dampak dari ketidakstabilan dunia, implementasi RUPTL juga dihadapkan pada kebutuhan pembiayaan yang sangat besar, diperkirakan mencapai Rp 3.000 triliun. Besarnya angka tersebut mencerminkan skala proyek-proyek yang direncanakan dalam upaya peningkatan kapasitas energi nasional.

Satya memaparkan bahwa proses perizinan yang kompleks, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, menjadi salah satu hambatan prosedural. Kebutuhan lahan yang luas untuk pembangunan pembangkit dan infrastruktur pendukung juga menjadi faktor pembatas lainnya.

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa volume proyek yang besar secara inheren membutuhkan waktu pengerjaan (lead time) yang panjang. Hal ini membuat rencana jangka panjang seperti RUPTL perlu fleksibel terhadap perubahan kondisi.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan RUPTL PT PLN (Persero) 2025–2034 sebagai acuan strategis. Rencana ini memproyeksikan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga tahun 2034.

Komposisi penambahan kapasitas tersebut sangat mengedepankan energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi (storage). EBT ditargetkan menyumbang 76% dari total penambahan, dengan detail 42,6 GW dari berbagai sumber EBT.

Pembangkit listrik tenaga surya menjadi porsi terbesar dalam EBT, dengan target 17,1 GW. Disusul kemudian oleh tenaga air (11,7 GW), angin (7,2 GW), panas bumi (5,2 GW), dan bioenergi (0,9 GW). Bahkan, pembangkit listrik tenaga nuklir juga masuk dalam rencana dengan kapasitas 0,5 GW.

Sistem penyimpanan energi, khususnya baterai dan pembangkit listrik tenaga air jenis pumped storage, diharapkan menambah kapasitas sebesar 10,3 GW atau 15% dari total.

Sementara itu, pembangkit berbasis energi fosil masih mendapatkan porsi sebesar 16,6 GW atau 24%. Rinciannya mencakup pembangkit gas sebesar 10,3 GW dan batu bara sebesar 6,3 GW.

Kementerian ESDM membagi pelaksanaan RUPTL menjadi dua fase. Pada lima tahun pertama, penambahan kapasitas ditargetkan 27,9 GW, di mana energi fosil masih mendominasi 45% atau 12,7 GW. Energi baru terbarukan berkontribusi 12,2 GW (44%), dan penyimpanan 3 GW (11%).

Memasuki lima tahun kedua, target penambahan kapasitas meningkat signifikan menjadi 41,6 GW. Pada periode ini, energi baru terbarukan diproyeksikan menjadi dominan, mencakup sekitar 70% dari total tambahan kapasitas baru.

RUPTL 2025–2034 ini sebelumnya sempat disebut sebagai “RUPTL paling hijau” oleh pemerintah, menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan energi baru terbarukan dalam rencana pengembangan kelistrikan nasional.

Rekomendasi