PGN Bidik Cadangan Batu Bara Rp 275 Triliun

Bisnistalk.com, – Tanjung Enim – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengarahkan fokus strategisnya pada pengembangan sumber daya gas nonkonvensional, yaitu coal bed methane (CBM) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, sebagai upaya krusial untuk memperkuat pasokan gas domestik.

Potensi coal bed methane di wilayah Tanjung Enim diperkirakan mencapai 9,7 triliun kaki kubik original gas in place (OGIP) berdasarkan data pemerintah. Nilai estimasi dari potensi gas ini mencapai angka signifikan, yakni sekitar 15,4 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp 275,8 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.911 per dolar AS.

Baca Juga

Perusahaan menyatakan bahwa pemanfaatan CBM ini diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan gas untuk memenuhi kebutuhan vital sektor industri dan pembangkit listrik di dalam negeri.

PGN telah menegaskan kesiapan teknis dan komersialnya melalui penyusunan skema pemanfaatan gas bumi yang ada. Target penyaluran gas dari CBM ini diproyeksikan akan meningkat secara bertahap, dimulai dari 1 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) hingga mencapai 25 MMSCFD.

Selain CBM, PGN juga memiliki rencana untuk mengoptimalkan potensi pasokan gas dari biomethane yang berasal dari limbah kelapa sawit, serta synthetic natural gas (SNG).

Direktur Utama PGN, Arief K. Risdianto, menjelaskan bahwa untuk mendukung pemanfaatan ketiga sumber pasokan gas tersebut, perusahaan akan membangun infrastruktur injection point.

Infrastruktur ini akan berfungsi sebagai titik pengumpul gas dari berbagai sumber, termasuk CBM, biomethane, dan sumber lainnya, sebelum akhirnya dialirkan ke dalam jaringan transmisi yang telah tersedia.

Melalui skema ini, PGN menargetkan penyaluran gas dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari 1 MMSCFD hingga mencapai angka 25 MMSCFD.

Sebelumnya, PGN telah menjalin kolaborasi dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dalam pengembangan hilirisasi batu bara menjadi synthetic natural gas (SNG) di lokasi yang sama, Tanjung Enim.

Proyek ini memanfaatkan cadangan batu bara low-rank milik PTBA yang selama ini belum terutilisasi secara optimal. Keberadaan proyek yang berdekatan dengan jaringan pipa transmisi PGN di Pagardewa, Sumatra Selatan, dinilai dapat menekan biaya pembangunan infrastruktur tambahan.

Selama tahun 2025, kedua perusahaan memfokuskan kegiatan pada studi kelayakan untuk mengkaji secara mendalam pembangunan fasilitas produksi SNG, jaringan pipa, serta skema bisnis yang akan diterapkan.

Inisiatif ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam hal hilirisasi sumber daya dan kemandirian energi nasional. Jika terealisasi, proyek ini berpotensi memperkuat pasokan gas dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap gas impor.

Synthetic natural gas merupakan gas hasil pengolahan batu bara yang memiliki karakteristik serupa dengan gas bumi, menjadikannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar maupun bahan baku industri. PGN berencana menggunakan SNG ini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan industri, khususnya di wilayah Jawa bagian barat yang saat ini tengah menghadapi tantangan pasokan gas.

PGN terus berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Holding Migas Pertamina, serta para pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk memastikan studi kelayakan berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik dan transparan.

Rekomendasi