Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga resmi memulai distribusi perdana bahan bakar nabati B50 ke berbagai wilayah di Indonesia sebagai wujud nyata dukungan terhadap program ketahanan energi nasional pada Jumat (24/7/2026).
Dilansir dari Katadata, pengiriman perdana tersebut melibatkan dua kilang utama yakni Kilang Kasim yang menyalurkan 4.600 kiloliter B50 ke MT Krasak dan Kilang Plaju yang mengirimkan 8.230 kiloliter ke Integrated Terminal Palembang.
Produk bahan bakar jenis solar ini merupakan campuran antara 50% minyak kelapa sawit atau Fatty Acid Methyl Ester dan 50% minyak solar murni.
Implementasi tingkat nasional untuk program ini telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026.
Lifting perdana oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat kemandirian serta kedaulatan energi nasional, kata Kitty dalam siaran pers.
Pihak perusahaan telah memastikan seluruh fasilitas, infrastruktur, hingga pengendalian mutu produk sudah memenuhi standar keselamatan sebelum penyaluran dilakukan.
Proses pencampuran solar dan FAME dilakukan secara bertahap guna mencapai komposisi yang tepat sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
Setiap produk B50 yang telah melalui proses blending wajib menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan kualitasnya sesuai dengan aturan Kementerian ESDM sebelum dikirim ke terminal bahan bakar.
Program ini diproyeksikan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional sekaligus berkontribusi signifikan pada penghematan devisa negara melalui pengurangan impor solar.
Selain itu, penggunaan bahan bakar ini diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan bahan bakar minyak dari luar negeri, kata Kitty.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa distribusi B50 kini telah menjangkau 57% dari total 13.603 SPBU yang dikelola oleh Pertamina Patra Niaga.
Penyaluran ini sudah mencakup berbagai titik strategis di wilayah Pulau Jawa, Sumatra, hingga sebagian wilayah Sulawesi.
B50 sudah disalurkan di beberapa titik sejak awal Juli, seperti di wilayah Cikampek, Surabaya, dan Jakarta, kata Eniya Listiani Dewi.
Pemerintah memberikan masa transisi hingga 30 September 2026 agar badan usaha dapat menghabiskan sisa stok B40 yang masih beredar di pasaran.
Pertamina diprediksi mampu menghabiskan sisa stok B40 dalam waktu dua bulan, sementara badan usaha swasta memerlukan waktu hingga tiga bulan untuk melakukan penyesuaian.
Volume kebutuhan FAME untuk B50 hingga akhir tahun diproyeksikan berada pada rentang 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter.
Angka minimal yang bisa kami keluarkan adalah 16,7 juta kiloliter namun akan lebih baik jika realisasinya bisa melampaui target tersebut, kata Eniya Listiani Dewi.
Ringkasan
PT Pertamina Patra Niaga resmi memulai distribusi perdana 12.830 kiloliter bahan bakar nabati B50 ke sejumlah wilayah di Indonesia pada Jumat (24/7/2026) guna mendukung program kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Penyaluran perdana tersebut dilakukan melalui dua kilang utama, yakni Kilang Kasim yang mengirimkan 4.600 kiloliter ke MT Krasak dan Kilang Plaju yang menyalurkan 8.230 kiloliter ke Integrated Terminal Palembang, dengan cakupan distribusi yang telah mencapai 57% dari total 13.603 SPBU Pertamina.
Program yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan menghemat devisa negara melalui pengurangan impor solar serta menekan emisi gas rumah kaca, dengan proyeksi kebutuhan FAME hingga akhir tahun mencapai 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter.





