Jakarta – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengalokasikan 88,79% dari total laba bersih semester pertama 2026 kepada kepentingan nonpengendali, sebuah langkah yang memicu perhatian investor pada Selasa (4/8/2026).
Dilansir dari Katadata, laporan keuangan perseroan menunjukkan bahwa perusahaan mencatatkan laba periode berjalan sebesar Rp 10,08 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan 25% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 8,05 miliar.
Namun, porsi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya tercatat sebesar Rp 1,12 miliar.
Sisa laba sebesar Rp 8,95 miliar secara otomatis menjadi hak bagi kepentingan nonpengendali sesuai dengan struktur permodalan perusahaan.
Besarnya porsi laba yang mengalir ke pihak luar ini terjadi karena kontribusi signifikan dari anak usaha yang sahamnya belum dimiliki sepenuhnya oleh perseroan.
Pada tahun 2025, salah satu anak usaha yakni PT VKTR Sakti Industries (VSI) menerima suntikan modal tambahan sebesar Rp 100 miliar dari pemegang saham nonpengendali yang memperbesar porsi hak mereka dalam ekuitas.
Secara rinci, perusahaan saat ini mengelola tiga entitas anak dengan kepemilikan yang bervariasi, yaitu PT VKTR Sakti Industries (VSI), PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI), dan PT Braja Mukti Cakra (BMC).
Di PT VKTR Sakti Industries (VSI) yang berfokus pada perakitan kendaraan, perseroan hanya menguasai 60% saham sehingga terdapat 40% porsi milik pihak nonpengendali.
Kepemilikan di PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI) tercatat meningkat dari 51% pada akhir tahun 2025 menjadi 99,99% per 30 Juni 2026.
Sementara itu, pada PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang bergerak di industri suku cadang, VKTR hanya memiliki 50% saham melalui PT Bakrie Autoparts.
Kondisi kepemilikan ini menyebabkan laba konsolidasi yang meningkat tidak sepenuhnya dapat diakui sebagai keuntungan bagi pemegang saham induk.
Dari sisi operasional, perseroan membukukan penjualan neto sebesar Rp 646,62 miliar, angka yang melonjak 56,17% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 414,03 miliar.
Pertumbuhan penjualan tersebut didominasi oleh segmen perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas yang menyumbang pendapatan sebesar Rp 533,53 miliar.
Penjualan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai sendiri memberikan kontribusi sebesar Rp 114,72 miliar sebelum dikurangi retur dan potongan penjualan.
Seiring dengan kenaikan volume bisnis, beban pokok penjualan perseroan juga membengkak menjadi Rp 534,17 miliar dari Rp 334,90 miliar pada semester pertama 2025.
Sebagai unit usaha dari Grup Bakrie, perusahaan terus berupaya mengembangkan portofolio bisnis di sektor energi hijau dan kendaraan listrik.
Ringkasan
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 10,08 miliar pada semester pertama 2026, namun 88,79% atau Rp 8,95 miliar dari laba tersebut dialokasikan kepada kepentingan nonpengendali. Fenomena ini terjadi karena struktur kepemilikan saham di sejumlah anak perusahaan yang belum dikuasai sepenuhnya oleh entitas induk.
Porsi laba yang besar bagi pihak luar disebabkan oleh kontribusi signifikan dari anak usaha, terutama PT VKTR Sakti Industries (VSI) di mana perseroan hanya menguasai 60% saham, serta PT Braja Mukti Cakra (BMC) yang kepemilikannya tercatat sebesar 50%. Akibat struktur tersebut, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya tersisa Rp 1,12 miliar, meskipun perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 25% secara tahunan.
Secara operasional, VKTR membukukan penjualan neto sebesar Rp 646,62 miliar yang melonjak 56,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan dominasi pendapatan berasal dari segmen perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas. Perusahaan yang merupakan bagian dari Grup Bakrie ini terus berupaya mengembangkan portofolio di sektor energi hijau dan kendaraan listrik di tengah tantangan pembagian laba ke pihak nonpengendali.
