OJK Akui IHSG Tertekan Dana Asing Menguap Rp71 7 T

Jakarta – Tekanan di pasar modal Indonesia sepanjang awal 2026 menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga itu mencatat investor asing terus melepas saham di tengah sentimen negatif yang membayangi pasar, dengan aksi jual bersih mencapai Rp71,7 triliun secara year-to-date hingga Jumat, 26 Juni 2026.

Kondisi tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam agenda Investor Day di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026). Hasan menyebut arus keluar dana asing itu menjadi salah satu indikator utama melemahnya kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa domestik dalam beberapa bulan terakhir.

“Investor-investor asing membukukan net sales sebesar Rp71,68 triliun secara year to date,” kata Hasan.

Tekanan jual yang berlanjut juga tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan data perdagangan per 26 Juni 2026, indeks acuan pasar saham Indonesia itu sudah terkoreksi dalam dan turun 31,81 persen sejak awal tahun.

Hasan menjelaskan, pelemahan sebesar itu menunjukkan bahwa pasar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor teknis perdagangan, tetapi juga oleh persepsi investor terhadap arah ekonomi dan stabilitas pasar. Menurut dia, data tersebut harus dibaca sebagai sinyal bahwa pemulihan pasar membutuhkan upaya yang lebih luas dari sekadar menjaga indikator makroekonomi.

“Data perdagangan per 26 Juni 2026, menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan kita telah terkoreksi sangat dalam sebesar 31,81 persen secara year to date,” ucap Hasan.

Dalam pandangan OJK, fundamental ekonomi yang kuat belum tentu otomatis mampu menahan gejolak di pasar modal. Hasan menegaskan bahwa kepercayaan menjadi unsur yang sama pentingnya, bahkan bisa menentukan seberapa jauh pasar mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal maupun internal.

“Kita mencatat perkembangan pasar sepanjang paruh pertama di 2026, harus menjadi pengingat kita semua bahwa kondisi fundamental ekonomi yang baik saja tidak selalu cukup,” tutur Hasan.

Ia menilai, pemulihan kepercayaan investor tidak bisa dibangun secara instan. Prosesnya memerlukan konsistensi kebijakan, disiplin pelaku pasar, serta koordinasi antarpemangku kepentingan agar integritas pasar tetap terjaga.

Hasan menekankan bahwa kepercayaan merupakan hasil kerja bersama, bukan hasil dari satu kebijakan tunggal atau hanya bergantung pada satu institusi. Menurut dia, ekosistem pasar modal harus menunjukkan komitmen yang sama dalam menjaga kredibilitas masing-masing agar minat investor dapat kembali pulih.

“Membangun kepercayaan ini bukanlah pekerjayaan yang dapat diselesaikan hanya melalui satu kebijakan, ataupun hanya dapat dilakukan oleh satu institusi semata. Kepercayaan merupakan hasil dari konsistensi seluruh ekosistem pasar modal dalam menjaga integritasnya masing-masing,” kata dia.

Rekomendasi