California – Meta Platforms resmi mengumumkan pengunduran diri dari komitmen global penggunaan energi terbarukan 100 persen atau RE100 pada Minggu (26/7/2026) guna mengakomodasi lonjakan kebutuhan listrik untuk mendukung ekspansi kecerdasan buatan di pusat data mereka.
Dilansir dari Katadata, langkah strategis ini diambil perusahaan induk Facebook dan Instagram tersebut karena pasokan energi bersih saat ini dianggap belum mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan konsumsi listrik untuk infrastruktur teknologi masa depan.
Keputusan tersebut secara otomatis mengakhiri partisipasi Meta dalam inisiatif global yang selama ini menjaga reputasi perusahaan sebagai salah satu penggerak utama transisi energi hijau di industri teknologi.
Perusahaan kini mulai mengalihkan ketergantungan energi mereka dengan membuka peluang lebih besar untuk menggunakan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam sebagai solusi cepat bagi operasional pusat data baru.
Meta menilai bahwa pembangunan pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin memerlukan waktu terlalu lama untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang ditimbulkan oleh pengembangan kecerdasan buatan berskala masif.
Sebagai langkah konkret, perusahaan telah menjalin kerja sama dengan berbagai utilitas listrik untuk mengoperasikan belasan pembangkit berbahan bakar fosil, termasuk proyek besar yang memasok listrik bagi pusat data Hyperion di Louisiana.
Pihak Meta menegaskan bahwa pengunduran diri dari RE100 tidak serta-merta menghilangkan target perusahaan untuk tetap menyeimbangkan seluruh konsumsi listrik mereka dengan pasokan energi bersih melalui mekanisme kompensasi.
Perusahaan mengklaim telah berhasil mencapai keseimbangan tersebut sejak tahun 2020 dengan memanfaatkan perjanjian pembelian listrik jangka panjang atau power purchase agreement.
Namun, pihak Climate Group selaku pengelola inisiatif RE100 menyatakan bahwa pendekatan baru Meta sudah tidak lagi memenuhi kriteria teknis yang disyaratkan oleh keanggotaan mereka.
Juru bicara Climate Group menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui serangkaian diskusi mendalam terkait investasi Meta pada pembangkit listrik tenaga gas yang tidak sejalan dengan prinsip energi terbarukan.
Kebutuhan listrik yang melonjak drastis ini dipicu oleh operasional ribuan chip performa tinggi yang harus bekerja tanpa henti untuk melatih model-model AI modern di pusat data berskala besar.
Meskipun gas alam dianggap menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan batu bara, bahan bakar ini tetap dikategorikan sebagai energi fosil yang tidak berkelanjutan.
Penggunaan gas alam juga menghadapi kritik tajam karena risiko kebocoran metana saat proses ekstraksi serta potensi pencemaran air tanah melalui metode pengeboran hidrolik atau fracking.
Langkah Meta ini mencerminkan dilema besar yang kini dihadapi industri teknologi global dalam menyeimbangkan target keberlanjutan lingkungan dengan tuntutan performa komputasi yang haus energi.
Beberapa raksasa teknologi lain dilaporkan tengah mengambil langkah serupa dengan menjajaki kombinasi energi terbarukan, gas alam, hingga tenaga nuklir untuk menopang infrastruktur pusat data mereka di masa depan.
Microsoft sebelumnya juga telah menandatangani kesepakatan dengan Chevron untuk memasok listrik berbasis gas alam ke fasilitas pusat data milik mereka di Texas Barat.
Analis industri memprediksi bahwa pergeseran strategi ini akan memberikan dampak signifikan bagi prospek bisnis perusahaan penyedia gas serta pengembang pusat data di seluruh dunia.
Ringkasan
Meta Platforms resmi mengundurkan diri dari komitmen energi terbarukan global RE100 pada Minggu (26/7/2026) guna beralih ke penggunaan gas alam demi memenuhi lonjakan kebutuhan listrik pusat data kecerdasan buatan (AI) yang mendesak.
Langkah ini diambil karena perusahaan menilai pembangunan infrastruktur energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin terlalu lambat untuk mengimbangi kebutuhan operasional ribuan chip performa tinggi, sehingga Meta mulai menjalin kerja sama dengan penyedia energi fosil seperti pada proyek pusat data Hyperion di Louisiana.
Meskipun Meta berencana tetap melakukan kompensasi emisi, Climate Group menyatakan bahwa ketergantungan pada gas alam tidak memenuhi kriteria teknis RE100, mencerminkan dilema industri teknologi dalam menyeimbangkan target keberlanjutan lingkungan dengan tuntutan energi komputasi yang masif.





