Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa kondisi pemadaman listrik yang melanda Pulau Kalimantan mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan signifikan pada Kamis (6/8/2026).
Dilansir dari Katadata, Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Tri Winarno mengungkapkan bahwa stabilitas pasokan energi di wilayah tersebut sempat terganggu oleh dua faktor utama, yakni kendala pada impor listrik dari Malaysia serta proses pemeliharaan fasilitas kelistrikan lokal.
Gangguan pasokan listrik yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dipicu oleh kerusakan teknis pada beberapa infrastruktur pembangkit utama.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Iwan Soelistijono, merinci bahwa masalah tersebut mencakup gangguan pada generator PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada dua unit pembangkit milik pihak swasta.
Pihak PLN terus mengerahkan personel teknis untuk mempercepat pemulihan unit-unit pembangkit yang mengalami kendala operasional agar sistem interkoneksi dapat kembali optimal.
Proses perbaikan di fasilitas milik Tanjung Power Indonesia dilaporkan telah selesai sepenuhnya.
Sementara itu, pemulihan pada fasilitas PT SKS Listrik Kalimantan ditargetkan rampung pada awal Agustus, disusul dengan penyelesaian pemeliharaan PLTU Asam-Asam yang dijadwalkan berakhir pada 29 Agustus 2026.
Meskipun pemerintah mengklaim situasi mulai membaik, sejumlah warga di Kalimantan Selatan melaporkan bahwa pemadaman listrik bergilir masih kerap dirasakan hingga saat ini.
Seorang warga Rantau, Anidya Laras, menyebutkan bahwa pemadaman di lingkungan tempat tinggalnya berlangsung secara acak dengan durasi yang cukup panjang.
Senada dengan hal tersebut, warga lain bernama Titik Lisdawati mengaku bahwa frekuensi pemadaman listrik di daerahnya mencapai empat kali dalam satu minggu.
Durasi rata-rata pemadaman yang dialami pelanggan di wilayah terdampak umumnya berlangsung selama empat jam per sesi.
Pihak PLN secara resmi telah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat gangguan pasokan listrik tersebut.
Seluruh tim lapangan kini tengah bekerja maksimal guna memastikan bahwa seluruh unit pembangkit yang sempat bermasalah dapat kembali beroperasi secara normal demi menjamin keandalan sistem kelistrikan di Pulau Kalimantan.
Ringkasan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan kondisi pemadaman listrik di Pulau Kalimantan mulai membaik pada Kamis (6/8/2026) setelah sempat terganggu akibat kendala impor listrik dan kerusakan teknis pada sejumlah infrastruktur pembangkit utama.
Gangguan teknis tersebut melibatkan kerusakan generator di PLTU Asam-Asam serta kebocoran pipa boiler dan turbin pada pembangkit milik pihak swasta, yakni Tanjung Power Indonesia dan PT SKS Listrik Kalimantan. PLN saat ini terus melakukan perbaikan teknis secara intensif agar sistem interkoneksi dapat kembali beroperasi secara optimal.
Meskipun pemerintah mengklaim situasi mulai stabil, warga di Kalimantan Selatan melaporkan masih sering mengalami pemadaman listrik bergilir dengan durasi rata-rata empat jam per sesi. Menanggapi kondisi tersebut, PLN telah menyampaikan permohonan maaf dan menargetkan seluruh proses pemeliharaan serta perbaikan unit pembangkit rampung sepenuhnya pada akhir Agustus 2026.
