Jakarta – Tekanan jual mendominasi perdagangan saham di dalam negeri pada penutupan Senin (29/6), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 75,344 poin atau 1,28 persen ke posisi 5.820,790. Di saat yang sama, indeks LQ45 juga melemah 10,714 poin atau 1,84 persen menjadi 573,007, menandakan pelemahan tidak hanya terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar, tetapi juga merata di pasar.
Aktivitas perdagangan berlangsung cukup padat. Tercatat 214 saham bergerak naik, namun jumlah saham yang turun jauh lebih banyak, yakni 449 saham, sementara 149 saham stagnan. Sepanjang sesi perdagangan, frekuensi transaksi mencapai 1.219.206 kali dengan total volume 14,309 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 8,082 triliun.
Di jajaran saham yang paling tertekan, Pelayaran Nasional Bina Buana (BBRM) menjadi salah satu top losers setelah turun 19 poin atau 14,84 persen ke level 109. Saham Wahana Interfood Nusantara (COCO) juga melemah 25 poin atau 14,71 persen ke 145. Adapun Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) turun 7 poin atau 11,48 persen ke 54, sedangkan Multi Medika Internasional (MMIX) terkoreksi 65 poin atau 9,22 persen ke 640.
Meski pasar saham domestik melemah, rupiah justru menunjukkan penguatan pada sore hari. Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah menguat 71 poin atau 0,40 persen ke level Rp 17.851 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan arah yang berbeda antara pasar saham dan mata uang pada perdagangan hari yang sama.
Sentimen positif juga terlihat di sebagian besar bursa Asia. Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 107,203 poin atau 0,15 persen ke 69.468,101. Bursa Hong Kong mencatat penguatan lebih besar, dengan indeks Hang Seng naik 354,820 poin atau 1,57 persen ke 23.026,679.
Penguatan serupa terjadi di pasar China. Indeks SSE Composite bertambah 46,629 poin atau 1,16 persen menjadi 4.073,899. Sementara itu, indeks Straits Times di Singapura juga bergerak naik 10,899 poin atau 0,21 persen ke 5.202,629.
Perbedaan arah antara IHSG dan sejumlah indeks Asia menunjukkan bahwa investor di pasar domestik masih menghadapi tekanan tersendiri, meskipun sebagian kawasan regional justru ditutup menguat. Aktivitas jual yang lebih dominan di bursa Indonesia membuat indeks utama tertekan hingga penutupan perdagangan, sementara rupiah dan beberapa pasar Asia bergerak lebih stabil pada sesi yang sama.





