Bisnistalk.com, – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,92% hingga menyentuh level 6.037 pada perdagangan awal pekan, Senin (13/7/2026), yang didorong oleh sentimen positif dari keputusan lembaga pemeringkat internasional terkait peringkat kredit Indonesia.
Dilansir dari S&P Global Ratings, lonjakan indeks terjadi setelah lembaga tersebut memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit atau sovereign credit rating Indonesia pada level ‘BBB’ untuk jangka panjang dan ‘A-2’ untuk jangka pendek dengan prospek stabil.
Sentimen positif ini mencerminkan keyakinan bahwa pendapatan pemerintah akan terus mengalami perbaikan sepanjang tahun berjalan seiring dengan potensi pemulihan penerimaan ekspor yang dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas global.
Lembaga pemeringkat tersebut memproyeksikan kebijakan pemerintah dalam mengoptimalkan penerimaan negara melalui sektor sumber daya alam akan memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.
Keberhasilan proyeksi tersebut sangat bergantung pada konsistensi serta tingkat prediktabilitas implementasi kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah di masa mendatang.
“Prospek yang stabil ini juga mencerminkan ekspektasi kami bahwa pemerintah terus memandang batas defisit tahunan sebesar 3% sebagai penopang kebijakan yang penting,” kata S&P Global Ratings.
Data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi harian mencapai Rp 12,15 triliun dengan volume perdagangan sebesar 26,32 miliar saham yang melibatkan frekuensi sebanyak 2,70 juta kali.
Kapitalisasi pasar IHSG tercatat berada pada angka Rp 10.533 triliun pada penutupan sesi perdagangan sore hari ini.
Sebanyak 377 saham tercatat mengalami penguatan, sementara 250 saham mengalami koreksi, dan 167 saham lainnya berada dalam kondisi stagnan.
Sektor bahan baku menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan indeks dengan kenaikan mencapai 2,96%, di mana salah satu emitennya yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tumbuh sebesar 8,02%.
Secara keseluruhan, terdapat sembilan dari sebelas sektor yang terdaftar di BEI yang berhasil mencatatkan kinerja positif di zona hijau.
Berbeda dengan performa pasar domestik, bursa saham Asia justru cenderung bergerak di zona merah dengan indeks Straits Times tergelincir 0,11%, Shanghai Composite terkoreksi 2,06%, dan Nikkei turun 1,92%.
Di sisi lain, indeks Hang Seng di bursa Hong Kong terpantau masih mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,16%.
Daftar saham yang masuk dalam kategori top gainers meliputi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 25% ke level Rp 650, PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) naik 24% ke level Rp 310, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang naik 24,77% ke level Rp 272.
Sementara itu, daftar saham yang masuk dalam kategori top losers adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) yang turun 14,72% ke level Rp 1.275, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) turun 10,53% ke level Rp 204, dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) turun 9,26% ke level Rp 302.
Aktivitas pasar modal ini mencerminkan optimisme investor di dalam negeri terhadap fundamental ekonomi Indonesia meski terdapat tekanan dari sentimen negatif di pasar regional Asia.
