Jakarta, Bisnistalk.com – Kiwoom Sekuritas menilai peluang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk kembali menembus level psikologis 9.000 hingga akhir 2026 masih tipis, meski indeks diperkirakan tetap bergerak lebih tinggi dibanding posisi saat ini.
Dalam proyeksi terbarunya, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu justru dinilai lebih berpotensi menutup tahun di rentang 7.250–7.700.
Dalam laporan Market Outlook semester kedua 2026, Kiwoom menjelaskan bahwa skenario tersebut bertumpu pada asumsi IHSG mampu keluar dari pola tren turun atau downtrend channel pada akhir Juli.
Jika skenario itu terwujud, ruang penguatan pasar dinilai masih terbuka, meski belum cukup kuat untuk membawa indeks ke level 9.000 pada penghujung tahun.
“Proyeksi ini didukung oleh pola musiman yang secara historis menunjukkan Juli sebagai bulan yang positif bagi IHSG, serta belum adanya komentar negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global terhadap Indonesia,” tulis Kiwoom Sekuritas dalam risetnya, dikutip pada Rabu (1/7).
Meski demikian, lembaga sekuritas itu mengingatkan investor agar tidak mengabaikan sejumlah risiko yang bisa menekan pasar.
Salah satu yang disorot adalah jadwal pidato Presiden Prabowo Subianto yang tercatat berlangsung 14 kali sepanjang Juli.
Berdasarkan pola historis dalam beberapa waktu terakhir, pasar saham kerap melemah saat kepala negara mulai menyampaikan pidato.
Di luar faktor domestik, ketidakpastian geopolitik global juga masih membayangi pergerakan pasar.
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang disepakati pada 17 Juni lalu dinilai belum sepenuhnya kokoh setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan pada 28–29 Juni sebelum akhirnya kembali menyepakati penghentian konflik.
Sementara itu, perundingan damai antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Kiwoom mencatat harga minyak dunia memang sudah turun ke kisaran US$70 per barel dari puncaknya sekitar US$126 per barel pada April.
Namun, setiap eskalasi konflik masih berpotensi mendorong kenaikan harga energi kembali dan memicu gejolak di pasar keuangan.
Dalam pandangan Kiwoom, tantangan utama pasar saham Indonesia pada paruh kedua tahun ini bukan semata-mata arah IHSG, melainkan kemampuan pasar mengubah valuasi murah menjadi daya tarik baru bagi investor global.
Istilah yang digunakan adalah re rating, yaitu kenaikan persepsi investor terhadap nilai saham Indonesia sehingga kembali menarik arus modal asing.
Saat ini, IHSG diperdagangkan pada rasio price to earnings atau P/E sekitar 13,1 kali. Angka itu menempatkan IHSG sebagai indeks utama dengan valuasi termurah kedua di Asia setelah Hang Seng.
Namun, murahnya valuasi belum otomatis mengundang kembali dana asing ke pasar domestik.
Kiwoom juga menyoroti penurunan kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN). Porsi tersebut merosot dari lebih dari 40% pada 2019 menjadi hanya sekitar 13%–14% saat ini, meski nilai penerbitan obligasi pemerintah hampir dua kali lipat lebih besar dibanding beberapa tahun lalu.
Di pasar saham, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets ikut menyusut, dari 2,6% pada 2016 menjadi sekitar 0,4% saat ini. Penurunan bobot itu membuat dana pasif otomatis mengurangi eksposur ke Indonesia, sementara investor aktif cenderung mengikuti arah yang sama.
Kiwoom menilai kondisi tersebut menciptakan lingkaran yang saling memperkuat. Likuiditas pasar menyempit, cakupan riset terhadap emiten Indonesia menurun, dan perhatian investor global ikut melemah.
Sebaliknya, Vietnam disebut mulai memperoleh momentum reformasi. Meski masih berstatus pasar perintis atau frontier market dalam indeks MSCI, FTSE Russell akan menaikkan status Vietnam menjadi secondary emerging market mulai September 2026.
Jika nantinya berhasil masuk ke indeks MSCI Emerging Markets, Bank Dunia memperkirakan Vietnam berpotensi menerima arus modal asing kumulatif hingga US$25 miliar pada 2030.
Kiwoom menilai perkembangan itu menunjukkan bahwa investor global mulai menghargai reformasi struktural dan pengembangan sektor teknologi, termasuk adopsi kecerdasan buatan atau AI. Dalam konteks itu, daya saing Indonesia untuk menarik perhatian investor global dinilai masih tertinggal.
Di tengah kondisi pasar yang masih penuh tantangan, Kiwoom Sekuritas tetap menyusun daftar saham pilihan untuk paruh kedua 2026. Ada sembilan emiten yang dinilai punya peluang menarik hingga akhir tahun depan.
Untuk sektor tambang, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dipilih dengan target harga Rp6.300, atau berpotensi naik sekitar 43% dari harga saham INCO per 29 Juni 2026. Prospeknya ditopang kenaikan harga nikel serta penyelesaian proyek smelter HPAL di Morowali dan Pomalaa yang ditargetkan selesai tahun ini.
Kiwoom juga merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target harga Rp4.800. Emiten ini dinilai masih mendapat dukungan dari kinerja kuat bisnis emas, nikel, dan bauksit, sementara dividen yang relatif tinggi menjadi nilai tambah bagi investor.
Di sektor properti, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) diproyeksikan mencapai Rp9.925 per saham. Optimisme terhadap saham ini ditopang oleh peningkatan utilisasi Nusantara International Convention Exhibition (NICE), kepemilikan land bank premium, pemasaran yang tetap kuat, serta pembangunan Hotel Hilton yang ditargetkan rampung pada 2027.
Untuk sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) direkomendasikan dengan target harga Rp3.600 per saham. Kiwoom menilai BBRI memiliki dukungan dari program buyback senilai Rp500 miliar, posisi kuat di segmen UMKM, dana murah atau CASA yang besar, dan prospek pertumbuhan kredit yang membaik pada semester kedua tahun ini.
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga masuk daftar dengan target harga Rp4.100 per saham. Kiwoom memperkirakan pertumbuhan kredit BBNI tetap solid, margin bunga bersih atau net interest margin berada di kisaran 3,5%–3,8%, serta biaya dana terjaga stabil.
Pada sektor infrastruktur digital, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) direkomendasikan dengan target harga Rp705 per saham. Prospeknya ditopang ekspansi ke bisnis penyedia layanan internet atau ISP, Internet of Things (IoT), dan infrastruktur digital, ditambah program buyback senilai Rp2,98 triliun yang dipandang mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Kiwoom juga memilih PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target harga Rp3.850 per saham. Menurut perusahaan sekuritas itu, valuasi JSMR masih berada di bawah rata-rata historis berdasarkan rasio PBV dan EV/EBITDA, sementara bisnis jalan tol dinilai menawarkan arus kas yang stabil dan defensif.
Di sektor konsumsi, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan mampu mencapai Rp3.140 per saham. Perseroan diproyeksikan mendapat manfaat dari pertumbuhan volume penjualan, kenaikan margin, stabilisasi harga unggas, serta dampak kenaikan harga tepung kedelai yang relatif terbatas.
Terakhir, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) direkomendasikan dengan target harga Rp970 per saham. Kiwoom menilai pertumbuhan Kalbe tetap solid berkat bisnis distribusi, produk kesehatan konsumen, nutrisi, peluncuran produk baru, dan peningkatan ekspor.
Penafian: Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.





