Grup Barito Bangkit Pasca Saham Keok Semester Pertama

Bisnistalk.com, – Jakarta – Sejumlah emiten Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu mulai melancarkan manuver korporasi di paruh kedua 2026, menyusul anjloknya harga saham mereka pada semester pertama tahun ini. Aktivitas terbaru ini menandai upaya pemulihan dan penguatan posisi bisnis pasca penurunan nilai pasar yang signifikan, yang sebagian dipicu oleh keluarnya beberapa perusahaan dari indeks global MSCI.

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menjadi sorotan dengan akuisisi 40% saham PT Armada Maritim Persada (AMP) melalui anak usahanya, PT Chandra Shipping International (CSI). Transaksi senilai US$90 juta atau sekitar Rp1,6 triliun ini bertujuan untuk mendukung ekspansi bisnis AMP dan meningkatkan potensi penerimaan dividen bagi CDIA. Akuisisi ini merupakan transaksi afiliasi, mengingat AMP dimiliki mayoritas oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang juga berada di bawah kendali Prajogo Pangestu. AMP sendiri bergerak di bidang jasa angkutan laut dan layanan penunjang kegiatan pertambangan.

Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melakukan perubahan strategis pada perjanjian pinjaman antara CDIA dengan Aster Port and Terminal Pte Ltd (APT) dan Aster Power Pte Ltd (APPL). Amendemen perjanjian ini menambahkan klausul hak konversi, memungkinkan pinjaman yang sebelumnya diberikan untuk bisnis pelabuhan, terminal, kelistrikan, dan energi terbarukan, dapat dikonversi menjadi saham. Langkah ini memberikan fleksibilitas finansial bagi Grup Barito dan membuka potensi peningkatan kepemilikan saham di masa depan.

PT Petrosea Tbk (PTRO) turut memperkuat sinergi internal grup dengan menandatangani perjanjian sewa gardu listrik untuk kendaraan listrik bersama PT Chandra Investa Prima, anak usaha CDIA. Infrastruktur ini akan digunakan untuk mendukung operasional proyek pertambangan PT Multi Tambangjaya Utama di Kalimantan Tengah. Presiden Direktur Petrosea, Michael, menyatakan bahwa inisiatif ini selaras dengan strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi emisi karbon, dan mendorong praktik usaha berkelanjutan. Michael menambahkan bahwa penggunaan infrastruktur kendaraan listrik juga mendukung pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik sebagai salah satu proyek strategis nasional.

Kinerja saham Grup Barito pada semester pertama 2026 menunjukkan tren penurunan yang cukup dalam, dengan beberapa emiten seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengalami koreksi lebih dari 68%. Penurunan ini terjadi setelah beberapa saham grup tersebut, termasuk BREN, TPIA, dan CUAN, dikeluarkan dari indeks global MSCI.

Secara rinci, pergerakan harga saham Grup Barito pada semester I 2026 (2 Januari – 20 Juni) adalah sebagai berikut: PT Barito Pacific Tbk (BRPT) -59,71%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) -68,06%, PT Petrosea Tbk (PTRO) -66,87%, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) -76,77%, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) -67,34%, dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) -76,85%. Pada penutupan perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, harga saham masing-masing adalah Rp1.485 (BRPT), Rp3.400 (BREN), Rp3.860 (PTRO), Rp1.785 (TPIA), Rp610 (CDIA), dan Rp1.785 (CUAN).

Rekomendasi