Simak panduan perencana keuangan mengenai strategi diversifikasi dan lindung nilai emas.
Jakarta – Emas kembali menjadi aset yang diminati investor di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ketidakpastian kondisi ekonomi global membuat logam mulia ini menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai.
Pergerakan harga emas Antam terpantau fluktuatif sepanjang pekan terakhir Oktober 2024.
Harga emas sempat menyentuh Rp2,570 juta per gram pada Rabu (28/10) sebelum terkoreksi menjadi Rp2,546 juta per gram pada Jumat (30/10).
Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andi Nugroho, menegaskan bahwa emas tetap layak dikoleksi karena fungsinya sebagai pelindung nilai aset.
“Emas itu merupakan safe haven, jadi sebagai lindung nilai dari nilai uang kita, jadi masih tetap bisa dilirik,” kata Andi pada Jumat (30/10).
Andi menyarankan investor untuk menghitung keuntungan berdasarkan harga jual kembali atau buyback yang umumnya lebih rendah 10 persen dari harga beli.
Ia menambahkan bahwa investor tidak perlu terburu-buru menjual emas jika tidak ada kebutuhan mendesak akan dana tunai.
“Namun, misalnya tidak ada kebutuhan untuk uang dananya segera digunakan, tidak ada salahnya juga untuk tetap di-hold karena memang kita gunakan sebagai salah satu bentuk lindung nilai mata uang kita,” ujar Andi.
Perencana Keuangan Oneshildt, Budi Rahardjo, menyebut emas sangat efektif sebagai penstabil portofolio investasi yang memiliki risiko tinggi.
“Emas biasanya berkorelasi negatif dengan instrumen yang memiliki karakteristik bertumbuh saat iklim ekonomi baik seperti saham, sehingga cocok sebagai pendamping aset berisiko tinggi sebagai penstabil portofolio,” jelas Budi.
Budi menyarankan investor melakukan strategi pembelian rutin atau cost averaging untuk mendapatkan harga rata-rata terbaik.
Ia juga menekankan pentingnya melakukan riset mendalam sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
“Tidak ada investasi yang benar-benar aman, do your own research dan pahami benar-benar karakteristik dari instrumen investasi yang kita pilih,” tegas Budi.
Para ahli menyarankan investasi emas dilakukan untuk jangka waktu panjang, setidaknya tiga hingga lima tahun ke depan.
Investor dapat memilih antara emas fisik maupun emas digital sesuai dengan preferensi dan kebutuhan keamanan masing-masing.