Jakarta – Kinerja industri ritel nasional diproyeksikan belum akan mencapai titik optimal sepanjang semester II tahun 2026 akibat tekanan kondisi ekonomi global yang membebani perdagangan domestik.
Dilansir dari Katadata, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menjelaskan bahwa sektor perdagangan dalam negeri yang menjadi pilar pertumbuhan ekonomi kini menghadapi berbagai tantangan dari sisi eksternal maupun domestik pada Selasa (28/7/2026).
Sejumlah tekanan yang membatasi pergerakan sektor ini meliputi kenaikan harga bahan baku, membengkaknya biaya logistik, serta peningkatan biaya energi.
Selain itu, pengetatan anggaran pemerintah serta fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan tingkat suku bunga pinjaman turut menekan performa industri secara keseluruhan.
Dampak dari berbagai tekanan tersebut secara langsung memengaruhi tren belanja masyarakat, baik dari kelompok menengah bawah maupun segmen menengah atas.
“Semua itu mempengaruhi tren belanja masyarakat kelas menengah bawah dan juga sekaligus kelas menengah atas,” kata Alphonzus.
Meskipun menghadapi tantangan berat, industri ritel masih memiliki peluang untuk memperbaiki kinerja melalui momentum triwulan IV yang bertepatan dengan periode Natal dan Tahun Baru.
Periode akhir tahun tersebut merupakan salah satu puncak penjualan ritel di Indonesia setelah momentum Ramadan dan Idulfitri selesai dilaksanakan.
“Industri usaha ritel masih memiliki kesempatan untuk mendongkrak kinerja semester kedua tahun ini melalui kinerja triwulan IV yaitu periode Natal dan akhir tahun/tahun baru,” ujar Alphonzus.
Namun, peritel harus mewaspadai potensi kenaikan harga barang akibat akumulasi kenaikan faktor biaya yang telah terjadi sejak triwulan II dan III.
Saat ini, industri ritel sedang berada dalam periode sepi pengunjung atau low season yang berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi low season ini terjadi karena perayaan Ramadan dan Idulfitri tahun ini berlangsung lebih awal yakni pada triwulan I.
Untuk menjaga arus penjualan, pengelola ritel mengandalkan berbagai program promo belanja berskala nasional maupun regional sebagai strategi utama.
Beberapa program yang tengah berjalan untuk merangsang konsumsi masyarakat antara lain adalah:
- Momentum liburan sekolah yang dimanfaatkan untuk menarik kunjungan keluarga ke pusat perbelanjaan.
- Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang sering dibarengi dengan berbagai diskon khusus.
- Penyelenggaraan festival belanja seperti Wonderful Indonesia Gastronomy, Jakarta Great Sale, Solo Raya Great Sale, hingga Surabaya Shopping Festival.
Alphonzus menilai bahwa program promo sangat krusial di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
“Penentuan program promo belanja juga merupakan salah satu strategi dalam kondisi daya beli masyarakat yang masih belum pulih normal,” ungkapnya.
Promo harga dinilai sangat efektif untuk menjangkau konsumen kelas menengah bawah yang mendominasi pasar ritel di Indonesia.
Berdasarkan data APPBI, pusat perbelanjaan di tanah air didominasi oleh segmen menengah bawah dengan porsi mencapai 60% dari total pasar.
Sementara itu, segmen pusat perbelanjaan kelas menengah mencakup 35% dan kelas atas hanya sebesar 5%.
Pemulihan daya beli masyarakat secara luas menjadi faktor penentu utama agar industri ritel dapat bertahan dan menutup tahun 2026 dengan hasil yang lebih baik.
Ringkasan
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa kinerja industri ritel nasional diproyeksikan belum optimal sepanjang semester II tahun 2026 akibat melemahnya daya beli masyarakat yang dipicu oleh tekanan ekonomi global dan domestik.
Tekanan tersebut bersumber dari kenaikan harga bahan baku, biaya logistik dan energi, serta pengetatan anggaran pemerintah yang memengaruhi pola belanja konsumen dari berbagai segmen, mulai dari kelas menengah bawah hingga atas.
Untuk menjaga arus penjualan di tengah periode low season yang panjang, peritel kini mengandalkan berbagai program promo belanja berskala nasional dan regional, sembari menaruh harapan pada momentum libur Natal dan Tahun Baru di triwulan IV untuk memperbaiki performa industri.
