Jakarta – Bank Indonesia mencatatkan kinerja impresif pada sistem pembayaran lintas negara dengan total transaksi inbound QRIS mencapai Rp 1,85 triliun dan outbound sebesar Rp 330 miliar sepanjang triwulan II 2026.
Dilansir dari Katadata, data tersebut menunjukkan surplus atau net inbound sebesar Rp 1,52 triliun yang merefleksikan tingginya penggunaan layanan pembayaran digital oleh wisatawan asing di Indonesia.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menyampaikan informasi tersebut dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (23/7/2026).
“Kondisi ini mencerminkan bahwa QRIS antarnegara memang mempermudah transaksi pembayaran lintas negara,” kata Filianingsih.
Menurutnya, tren positif ini memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui sektor pariwisata serta pemberdayaan UMKM.
Bank Indonesia saat ini sedang mengintensifkan komunikasi dengan otoritas di India, Arab Saudi, dan Hong Kong untuk memperluas cakupan layanan pembayaran antarnegara tersebut.
“Mudah-mudahan ini bisa segera direalisasikan, karena implementasinya tentu harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, baik kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, maupun koordinasi dengan otoritasnya,” ujar Filianingsih.
Secara keseluruhan, sektor ekonomi dan keuangan digital menunjukkan resiliensi yang kuat dengan volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet mencapai 16,07 miliar transaksi.
Angka tersebut merepresentasikan pertumbuhan sebesar 36,88% secara tahunan yang didorong oleh meluasnya akseptasi pembayaran digital di masyarakat.
Secara rinci, transaksi QRIS sendiri mencatatkan lonjakan yang sangat signifikan dengan pertumbuhan mencapai 100,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan volume transaksi ini juga diikuti oleh peningkatan jumlah pengguna serta merchant yang terdaftar dalam ekosistem QRIS secara nasional.
Pada sisi infrastruktur sistem pembayaran, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST tercatat sebanyak 1.529 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp 3.777 triliun.
Sementara itu, transaksi nilai besar melalui sistem BI-RTGS tumbuh sebesar 13,03% dengan nominal transaksi mencapai Rp 53.492 triliun.
Peredaran uang kartal masyarakat juga terpantau meningkat sebesar 14,03% menjadi Rp 1.315 triliun untuk memenuhi kebutuhan likuiditas ekonomi di tengah aktivitas yang terus bergeliat.
Seluruh capaian ini menegaskan bahwa sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal menjadi fondasi utama dalam menopang kegiatan ekonomi domestik di sepanjang tahun berjalan.
Ringkasan
Bank Indonesia mencatatkan transaksi pembayaran lintas negara melalui QRIS mencapai Rp1,85 triliun dari wisatawan asing selama triwulan II 2026, yang menunjukkan tingginya adopsi layanan digital di Indonesia. Capaian ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur pada Kamis (23/7/2026) sebagai upaya mempermudah transaksi antarnegara bagi sektor pariwisata dan UMKM.
Kinerja tersebut mencatatkan surplus atau net inbound sebesar Rp1,52 triliun setelah dikurangi transaksi outbound sebesar Rp330 miliar. Bank Indonesia kini tengah menjajaki perluasan kerja sama sistem pembayaran serupa dengan otoritas di India, Arab Saudi, dan Hong Kong.
Secara keseluruhan, ekosistem ekonomi digital nasional menunjukkan pertumbuhan pesat dengan transaksi QRIS yang melonjak 100,12% secara tahunan. Selain itu, sistem pembayaran ritel BI-FAST mencatatkan nilai transaksi hingga Rp3.777 triliun, yang mencerminkan resiliensi sistem pembayaran dalam mendukung aktivitas ekonomi domestik.





