Viral Perbandingan Biaya Hidup dengan Korea Selatan Ungkap Keresahan Daya Beli

Analisis daya beli dan porsi pendapatan untuk kebutuhan pokok di kedua negara.

Jakarta — Perbandingan biaya hidup antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi sorotan tajam warganet di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Diskusi daring tersebut mencerminkan keresahan masyarakat mengenai daya beli di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Warganet menyoroti disparitas antara harga kebutuhan pokok dengan tingkat pendapatan masyarakat di kedua negara tersebut.

Perbincangan ini mengulas porsi penghasilan yang harus disisihkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Data yang beredar menunjukkan Upah Minimum Regional (UMR) di Korea Selatan mencapai 2 juta won atau setara dengan Rp 25 juta per bulan.

Sebagai perbandingan, harga telur di Korea Selatan tercatat sebesar 5.790 won atau sekira Rp 80 ribu per tray.

Sementara itu, UMR di Indonesia berada pada kisaran Rp 5 juta per bulan dengan harga telur yang fluktuatif antara Rp 50 ribu hingga Rp 83 ribu per tray.

Kesenjangan daya beli terlihat jelas dari persentase pengeluaran untuk kebutuhan pangan terhadap total pendapatan.

Harga beras di Korea Selatan tercatat sebesar 4.460 won atau sekitar 0,21 persen dari UMR.

Di sisi lain, harga beras di Indonesia mencapai Rp 16 ribu per kilogram atau setara 0,46 persen terhadap UMR.

Perbedaan beban ekonomi juga tampak pada biaya bahan bakar minyak.

Harga BBM di Korea Selatan senilai 2.010 won per liter atau 0,09 persen dari UMR.

Sebaliknya, harga BBM di Indonesia sebesar Rp 16.250 per liter atau sekitar 0,46 persen dari UMR.

Fenomena ini memicu pertanyaan kritis mengenai standar keterjangkauan harga barang.

“Harga yang lebih tinggi di suatu negara belum tentu lebih membebani masyarakat apabila pendapatan yang diterima juga jauh lebih tinggi,” ujar salah satu pengamat dalam diskusi tersebut.

Sebaliknya, barang dengan harga relatif murah tetap terasa mahal jika menyerap porsi penghasilan yang signifikan.

“Data tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk mengkaji kondisi masyarakat mengalokasikan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tulis narasi dalam pembahasan tersebut.

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta mencatat rata-rata pengeluaran penduduk pada 2025 mencapai Rp 2,96 juta per kapita per bulan.

Angka pengeluaran tersebut terdiri dari Rp 1,15 juta untuk kebutuhan makanan dan Rp 1,81 juta untuk non-makanan.

Salah satu komponen pengeluaran makanan adalah daging, dengan rata-rata konsumsi sekitar Rp 70.168 per kapita per bulan.

Rekomendasi