Rupiah Melemah ke Level Rp18.155 Akibat Tekanan Harga Minyak Dunia

Kekhawatiran terhadap APBN dan inflasi menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar rupiah.

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan hingga menembus level Rp 18.100-an per dolar AS.

Mata uang Garuda melemah 21 poin atau 0,12 persen menuju level Rp 18.155,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026).

Posisi ini menunjukkan penurunan dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp 18.135 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kekhawatiran terganggunya APBN akibat kenaikan harga minyak dunia.

Pemerintah sebelumnya telah memastikan bahwa pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) masih dalam kondisi memadai.

Stok bahan bakar bersubsidi diklaim cukup untuk kebutuhan 16 hingga 18 hari, sementara persediaan jenis bahan bakar lain berada di atas ketentuan minimum.

“Pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM memberikan indikasi risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola,” ujar Ibrahim, Selasa (27/10/2026).

Meski demikian, Ibrahim menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak otomatis menjamin APBN terbebas dari tekanan harga minyak global.

Menurutnya, pemerintah perlu fokus pada pengelolaan cadangan energi, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi, serta pengendalian konsumsi energi.

Selain faktor energi, Ibrahim menyoroti risiko inflasi akibat kenaikan harga pangan yang mengancam daya beli masyarakat.

“Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Kenaikan harga pangan berpotensi mendorong inflasi dari sisi penawaran atau cost-push inflation akibat gangguan produksi maupun distribusi.

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor eksternal, yakni dinamika konflik di Timur Tengah dan kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Upaya diplomatik kini tengah dilakukan oleh berbagai negara seperti Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk mencegah meluasnya konflik regional.

“Upaya diplomatik ini telah membantu meredakan kekhawatiran mendesak mengenai eskalasi militer lebih lanjut, namun para investor tetap bersikap hati-hati terkait apakah upaya tersebut akan menghasilkan de-eskalasi yang langgeng,” kata Ibrahim menambahkan.

Rekomendasi