Waskita Karya Hadapi Beban Utang dan Kerugian Besar

Gedung kantor PT Waskita Karya (Persero) Tbk di Jakarta pada Juli 2026.
Waskita Karya mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 2,17 triliun pada semester pertama 2026.

Jakarta – PT Waskita Karya (Persero) Tbk masih menghadapi tekanan finansial yang berat hingga semester pertama 2026, ditandai dengan akumulasi kerugian besar serta beban utang yang mencapai puluhan triliun rupiah di tengah kondisi ekuitas perusahaan yang semakin menipis pada Selasa (21/7/2026).

Dilansir dari Katadata, emiten konstruksi pelat merah ini mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp 2,17 triliun sepanjang paruh pertama tahun ini.

Baca Juga

Meskipun angka tersebut menunjukkan perbaikan tipis sebesar 9,5% dibandingkan kerugian periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 2,39 triliun, tantangan operasional perusahaan tetap signifikan.

Pendapatan usaha Waskita memang berhasil tumbuh sebesar 58,5% secara tahunan menjadi Rp 4,91 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rp 3,10 triliun.

Namun, peningkatan pendapatan tersebut tidak diikuti dengan efisiensi biaya, karena beban pokok pendapatan justru melonjak tajam sebesar 80% menjadi Rp 4,41 triliun.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada laba bruto perusahaan yang harus tergerus 23,8% menjadi Rp 504,20 miliar.

Dari sisi neraca keuangan, total aset yang dimiliki perseroan tercatat sebesar Rp 68,08 triliun per Juni 2026, menurun dibandingkan posisi akhir tahun lalu yang berada di angka Rp 70,73 triliun.

Penurunan aset tersebut terjadi baik pada aset lancar yang kini sebesar Rp 14,85 triliun maupun aset tidak lancar yang mencapai Rp 53,22 triliun.

Posisi ekuitas perusahaan menjadi perhatian khusus karena menyusut drastis menjadi hanya tersisa Rp 1,55 triliun dari sebelumnya Rp 3,67 triliun pada Desember 2025.

Sementara itu, total liabilitas atau kewajiban perusahaan masih bertengger di angka Rp 66,53 triliun.

Beban utang jangka panjang perusahaan mengalami kenaikan signifikan sebesar 36,1% menjadi Rp 46,20 triliun per akhir Juni 2026.

Kenaikan utang jangka panjang ini didorong oleh lonjakan kewajiban kepada pihak ketiga yang melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 15,8 triliun.

Di sisi lain, Waskita Karya mencatatkan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp 1,5 triliun, yang menunjukkan peningkatan penggunaan kas dibandingkan periode sebelumnya.

Posisi kas dan setara kas perusahaan pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp 2,61 triliun, atau mengalami penurunan 20,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, arah kebijakan strategis perusahaan berada di bawah kendali jajaran direksi yang dipimpin oleh Direktur Utama Muhammad Hanugroho.

Dewan Komisaris perusahaan saat ini terdiri dari sejumlah nama, yakni:

  • Sutrisno menjabat sebagai Komisaris Utama.
  • Aqila Rahmani menjabat sebagai Komisaris Independen.
  • Muhammad Harrifar Syafar menjabat sebagai Komisaris Independen.
  • Muhammad Abdullah Syukri menjabat sebagai Komisaris Independen.
  • Ade Abdul Rochim menjabat sebagai Komisaris.
  • Hasby Muhammad Zamri menjabat sebagai Komisaris.

Jajaran manajemen operasional perusahaan dijalankan oleh tim direksi sebagai berikut:

  • Muhammad Hanugroho menjabat sebagai Direktur Utama.
  • Wiwi Suprihatno menjabat sebagai Direktur Keuangan.
  • Rudi Purnomo menjabat sebagai Direktur Business Strategic, Portfolio, & Human Capital.
  • Ari Asmoko menjabat sebagai Direktur Operasi I.
  • Paulus Budi Kartiko menjabat sebagai Direktur Operasi II.

Ringkasan

PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencatatkan kerugian sebesar Rp 2,17 triliun pada semester pertama 2026 akibat beban operasional yang membengkak di tengah tekanan utang yang mencapai Rp 66,53 triliun per Juni 2026.

Kondisi keuangan perusahaan semakin tertekan dengan menyusutnya ekuitas secara drastis menjadi Rp 1,55 triliun, sementara beban pokok pendapatan melonjak 80% menjadi Rp 4,41 triliun meskipun pendapatan usaha tercatat tumbuh 58,5% menjadi Rp 4,91 triliun.

Selain penurunan total aset menjadi Rp 68,08 triliun, perusahaan juga menghadapi kenaikan beban utang jangka panjang sebesar 36,1% menjadi Rp 46,20 triliun, yang dipicu oleh lonjakan kewajiban kepada pihak ketiga.

Rekomendasi