Jakarta – Perusahaan teknologi pertanian Rize berhasil mengamankan pendanaan Seri B senilai US$31 juta atau setara dengan Rp500 miliar pada Kamis (16/7/2026) untuk memperluas operasional budidaya padi berkelanjutan di Indonesia dan Vietnam.
Dilansir dari Katadata, putaran pendanaan ini dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts dengan keterlibatan dari The Rockefeller Foundation, serta dukungan lanjutan dari investor terdahulu seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures.
Total modal yang telah dihimpun oleh perusahaan kini mencapai angka US$47 juta atau sekitar Rp800 miliar.
“Hal ini merupakan pengakuan atas fondasi yang telah kami bangun, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kami siap menciptakan sistem pangan yang lebih terhubung, tangguh, dan berkelanjutan bagi para petani kecil,” kata Co-Founder dan CEO Rize Dhruv Sawhney.
Rize didirikan pada tahun 2022 sebagai usaha patungan antara Temasek dan Breakthrough Energy Ventures untuk menekan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian di Asia.
Budidaya padi menjadi fokus utama perusahaan karena sektor ini menyumbang sekitar 12 persen emisi metana global akibat kondisi lahan yang terus tergenang air.
Perusahaan menerapkan metode irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) yang memungkinkan lahan mengalami periode basah dan kering secara bergantian.
Teknik ini diklaim mampu memangkas emisi metana hingga 50 persen, menghemat penggunaan air sebanyak 20 hingga 30 persen, dan meningkatkan pendapatan petani sebesar 30 persen.
Dana segar tersebut akan dialokasikan untuk memperkuat sistem penelusuran rantai pasok agar beras rendah emisi dapat dipasarkan dengan harga yang lebih terjangkau oleh konsumen.
Selain itu, modal tersebut akan digunakan untuk memperluas jangkauan operasional di Asia Tenggara serta membuka akses bagi penyedia teknologi untuk bergabung dalam jaringan petani Rize.
Hingga saat ini, Rize telah menjalin kemitraan dengan 17 ribu petani kecil yang mengelola lebih dari 50 ribu hektar lahan di Indonesia dan Vietnam.
BNP Paribas menilai bahwa daya tarik perusahaan terletak pada integrasi antara pertanian berkelanjutan, pembiayaan karbon, dan perdagangan komoditas yang terverifikasi.
“Ini sangat selaras dengan strategi kami untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem alam secara berkelanjutan sekaligus memberikan imbal hasil finansial yang kompetitif bagi para investor,” ujar Head of Natural Capital & Impact Investments BNP Paribas Asset Management Alts, Alexandre Martin-Min.
The Rockefeller Foundation menyatakan keterlibatannya bertujuan untuk membantu petani kecil menghadapi tantangan sumber daya serta mempermudah akses mereka terhadap pasar.
“Kami bangga dapat mendukung upaya Rize dalam mendorong penerapan praktik regeneratif berbasis teknologi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatan para petani yang paling membutuhkan dukungan,” kata Vice President of Innovative Finance at The Rockefeller Foundation, Slav Gatchev.
Ringkasan
Perusahaan agritech Rize berhasil mengumpulkan pendanaan Seri B sebesar US$31 juta atau sekitar Rp500 miliar pada Kamis (16/7/2026) untuk memperluas operasional budidaya padi rendah emisi di Indonesia dan Vietnam. Pendanaan yang dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts ini ditujukan untuk mengakselerasi penerapan praktik pertanian berkelanjutan guna menekan emisi metana dari sektor persawahan.
Investasi tersebut melibatkan partisipasi dari The Rockefeller Foundation serta investor terdahulu seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures, sehingga total modal yang dihimpun Rize kini mencapai US$47 juta. Dana segar ini akan digunakan untuk memperkuat sistem rantai pasok, memperluas jaringan ke lebih banyak petani, dan mengintegrasikan teknologi irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) yang terbukti mampu memangkas emisi metana hingga 50 persen.
Hingga saat ini, Rize telah bermitra dengan 17 ribu petani yang mengelola lebih dari 50 ribu hektar lahan. Strategi perusahaan yang mengintegrasikan pertanian regeneratif dengan pembiayaan karbon dinilai selaras dengan target global untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi petani kecil.





