Permintaan Lemah dan Biaya Tinggi Hambat Rekrutmen Sektor Manufaktur

Suasana area produksi di dalam sebuah pabrik manufaktur berskala besar di Indonesia
Sektor manufaktur nasional menghadapi tantangan dalam penyerapan tenaga kerja meski berada dalam fase ekspansi.

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyoroti adanya perlambatan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur nasional meski data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal II 2026 menunjukkan industri tersebut masih berada dalam fase ekspansi pada Jumat (7/8/2026).

Dilansir dari Katadata, Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani menyatakan bahwa data ekonomi terbaru perlu dicermati secara mendalam karena adanya ketimpangan antara pertumbuhan produksi dengan penyerapan sumber daya manusia.

Baca Juga

Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) tercatat naik menjadi 52,31 pada triwulan II 2026 dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 51,37.

Peningkatan indeks tersebut ditopang oleh komponen produksi yang mencapai 54,21, pesanan sebesar 53,78, serta stok di level 51,86.

Komponen tenaga kerja justru masih berada di bawah ambang batas ekspansi, yakni 49,92, yang mencerminkan perusahaan belum mengambil langkah agresif untuk menambah jumlah pekerja.

“Pelaku industri manufaktur belum cukup yakin momentum tersebut akan berlangsung secara berkelanjutan untuk melakukan ekspansi tenaga kerja dalam skala yang lebih besar,” kata Shinta.

Pertumbuhan industri pengolahan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 4,52% secara tahunan, angka ini masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%.

Perlambatan rekrutmen ini ditegaskan bukan disebabkan oleh otomatisasi atau digitalisasi, melainkan lebih kepada pertimbangan strategis perusahaan dalam merespons kondisi pasar.

Dunia usaha saat ini masih menghadapi tantangan berupa lemahnya daya beli domestik, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian geopolitik yang menekan kinerja ekspor.

Industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur menjadi sektor yang paling terdampak oleh pelemahan permintaan dari pasar utama.

Pelaku usaha juga masih terbebani oleh tingginya biaya logistik, energi, bahan baku, serta berbagai kendala regulasi yang meningkatkan biaya operasional.

“Dalam situasi seperti ini, perusahaan tentu akan lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas produksi maupun melakukan perekrutan tenaga kerja baru,” ujar Shinta.

Sikap wait and see dari para pelaku usaha dilakukan sembari memantau prospek permintaan serta stabilitas biaya usaha di masa depan.

Terdapat beberapa perkembangan yang sedang diperhatikan oleh para pengusaha saat ini:

  • Indonesia sedang membangun fasilitas manufaktur GPU pertama di Cikarang untuk memperkuat ekosistem teknologi kecerdasan buatan.
  • Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mencatat bahwa pemulihan manufaktur belum merata, terutama pada sektor padat karya yang masih dalam tekanan.
  • Indeks PMI Manufaktur ASEAN mengalami kenaikan ke level 52,8 yang menjadi capaian tertinggi dalam lima bulan terakhir.

APINDO melihat adanya sinyal perbaikan pada awal triwulan III 2026 setelah PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli dari 46,9 pada Juni.

Kenaikan indeks tersebut menunjukkan output kembali tumbuh, pesanan baru mulai stabil, dan perusahaan mulai menambah tenaga kerja meski dalam skala yang terbatas.

“Ketika permintaan mulai membaik, dunia usaha pada dasarnya tetap memiliki kecenderungan untuk kembali melakukan perekrutan,” ucap Shinta.

Pihaknya mendorong pemerintah untuk mempercepat deregulasi dan memperbaiki iklim investasi guna mengatasi persoalan struktural seperti logistik serta perizinan.

Langkah perbaikan tersebut dianggap krusial untuk meningkatkan daya saing industri nasional dan mendorong terciptanya lapangan kerja baru di masa mendatang.

Ringkasan

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) melaporkan adanya perlambatan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur nasional pada kuartal II 2026, meskipun industri tersebut tercatat masih berada dalam fase ekspansi. Fenomena ini terjadi akibat rendahnya keyakinan pelaku usaha terhadap keberlanjutan momentum ekonomi di tengah tantangan permintaan pasar yang melemah.

Meskipun Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Manufaktur (IKBM) mencapai 52,31, komponen tenaga kerja justru tertahan di angka 49,92 atau di bawah ambang batas ekspansi. Kondisi ini dipicu oleh tekanan daya beli domestik, perlambatan ekonomi global, serta tingginya biaya operasional yang mencakup logistik dan energi, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki.

APINDO mendesak pemerintah untuk segera melakukan deregulasi dan memperbaiki iklim investasi guna mengatasi kendala struktural. Meski demikian, terdapat sinyal pemulihan pada awal triwulan III 2026 seiring dengan kenaikan PMI Manufaktur S&P Global Indonesia ke level 50,2 pada Juli, yang memberikan optimisme bagi perusahaan untuk mulai kembali melakukan perekrutan secara terbatas.

Rekomendasi