Jakarta – PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) secara resmi mengumumkan strategi pengembangan bisnis strategisnya setelah berhasil memenangkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy (WtE) di Lampung pada Senin (20/07/2026).
Dilansir dari Katadata, konsorsium Bumi Biru Indonesia yang terdiri dari SUS Environment Inc. dan PT Indoplas Dewata Energi telah ditetapkan sebagai mitra terpilih oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia untuk mengelola proyek dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.167 ton sampah per hari tersebut.
Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kolaborasi intensif antara pemerintah, sektor swasta, dan para mitra teknologi terkait.
“OASA berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan proyek-proyek yang tidak hanya menghasilkan solusi pengelolaan sampah yang lebih modern, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap transisi energi, pengurangan emisi, dan pembangunan yang berkelanjutan,” kata Bobby.
Perusahaan saat ini juga tengah melakukan penyesuaian untuk proyek PSEL di Tangerang Selatan agar selaras dengan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Langkah adaptasi ini diambil sebagai bagian dari upaya transisi untuk mempercepat pembangunan fasilitas energi terbarukan berskala nasional sekaligus memperkuat fondasi teknis proyek.
Proyek di Tangerang Selatan tersebut nantinya akan dikelola oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, sebuah entitas hasil kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dan China Tianying Inc.
Fasilitas ini direncanakan berdiri di atas lahan seluas 5,53 hektare dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.100 ton per hari.
Target output listrik yang dihasilkan dari fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas terpasang sebesar 25 MW dengan kapasitas bersih mencapai 19,62 MW.
Skema bisnis proyek ini mencakup penjualan listrik dengan tarif US$ 0,1335 per kWh untuk durasi 30 tahun serta pendapatan tambahan dari tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton sampah.
Total investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan pembangunan fasilitas PSEL Tangerang Selatan diperkirakan mencapai Rp 2,30 triliun.
Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menjelaskan bahwa variasi biaya investasi proyek WtE umumnya berkisar antara Rp 2,3 triliun hingga Rp 3,2 triliun tergantung pada teknologi yang diterapkan.
Pemerintah menargetkan sebanyak tujuh fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah berteknologi insinerator dapat beroperasi selambat-lambatnya pada April 2026.
Proyek-proyek ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja hingga 4.500 orang per lokasi selama masa konstruksi awal berlangsung.
Selain aspek ekonomi, operasional fasilitas ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80% serta menekan volume timbunan sampah di tempat pembuangan akhir sebesar 90%.
Ringkasan
PT Maharaksa Biru Energi Tbk melalui konsorsium Bumi Biru Indonesia resmi terpilih sebagai pengelola proyek pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy/WtE) di Lampung pada Senin (20/07/2026) untuk mendukung transisi energi dan pengelolaan sampah berkelanjutan.
Proyek ini akan mengolah sekitar 1.167 ton sampah per hari, yang merupakan hasil kolaborasi strategis antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra teknologi untuk memperkuat infrastruktur energi terbarukan nasional.
Selain proyek di Lampung, Maharaksa Biru Energi juga tengah menyesuaikan proyek serupa di Tangerang Selatan dengan nilai investasi mencapai Rp 2,30 triliun, yang ditargetkan mampu mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir hingga 90% serta menekan emisi gas rumah kaca sebesar 80%.





