Jakarta – Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juli 2026 mengalami peningkatan ke level 53,10 atau naik sebesar 0,20 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 52,90, Kamis (30/7/2026).
Dilansir dari Katadata, Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menyebut bahwa kenaikan ini menandakan sektor manufaktur nasional tetap berada dalam zona ekspansi meskipun sempat tertekan oleh kenaikan harga gas industri serta suku bunga acuan Bank Indonesia.
Pihak kementerian menyatakan bahwa tekanan dari sisi produksi dan permintaan telah berhasil diatasi dengan baik oleh para pelaku industri sepanjang bulan ini.
Secara tahunan, capaian IKI tersebut juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,21 poin dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang mencatatkan angka 52,89.
Data terbaru menunjukkan bahwa dari 23 subsektor industri pengolahan yang dipantau, sebanyak 22 subsektor berada dalam fase ekspansi dengan kontribusi terhadap PDB industri mencapai 98,6 persen.
Satu-satunya subsektor yang masih mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.
Sementara itu, industri minuman serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer tercatat sebagai dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi.
Kenaikan indeks ini utamanya ditopang oleh peningkatan komponen pesanan baru sebesar 0,45 poin menjadi 53,80 yang didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Febri menjelaskan bahwa sejumlah program strategis pemerintah menjadi katalis utama bagi peningkatan permintaan produk manufaktur dalam negeri.
“Mulai beroperasinya dapur SPPG dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis telah meningkatkan permintaan produk manufaktur, seperti minyak goreng dan berbagai kebutuhan lainnya,” kata Febri.
Selain itu, implementasi program biodiesel B50 turut mendongkrak permintaan minyak sawit mentah di pasar domestik.
Program pembangunan Koperasi Desa Merah Putih serta proyek pembangunan tiga juta rumah juga memberikan dampak positif terhadap permintaan material konstruksi seperti semen, kaca, keramik, dan baja.
Dari sisi investasi, tercatat sebanyak 152 industri baru mulai beroperasi di Indonesia sepanjang semester I/2026 dengan total nilai investasi mencapai Rp157,6 triliun.
Investasi tersebut berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 56.347 orang yang tersebar di 23 subsektor industri pengolahan.
Variabel produksi dalam pembentukan IKI juga meningkat 0,27 poin menjadi 54,55 yang mencerminkan ketahanan rantai pasok industri nasional.
“Kenaikan variabel produksi menunjukkan resiliensi rantai pasok industri dalam negeri masih cukup kuat menghadapi berbagai tekanan,” ujar Febri.
Di sisi lain, variabel persediaan produk tercatat mengalami kontraksi menjadi 49,18 setelah turun 0,54 poin yang mengindikasikan stok barang masih tertahan di gudang.
Febri menegaskan bahwa penumpukan tersebut bukan disebabkan oleh lemahnya permintaan, melainkan strategi pelaku usaha yang memilih untuk menahan distribusi.
Para pengusaha saat ini masih bersikap waspada terhadap arah kebijakan pemerintah dan perkembangan indikator makroekonomi sebelum melepas stok ke pasar.
Meski demikian, stabilitas nilai tukar rupiah kini dipandang sebagai faktor pendukung bagi perencanaan bisnis dan koordinasi rantai pasok ke depan.
Industri yang berorientasi ekspor tetap bertahan di zona ekspansi dengan IKI sebesar 53,95, sementara industri berorientasi domestik mencatat IKI di level 51,99.
Secara umum, ekspektasi pelaku usaha terhadap aktivitas industri nasional hingga saat ini masih menunjukkan tren yang positif.
Ringkasan
Kementerian Perindustrian melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juli 2026 naik ke level 53,10, menandakan sektor manufaktur nasional tetap berada dalam zona ekspansi di tengah tekanan ekonomi global. Peningkatan ini didorong oleh kuatnya permintaan domestik melalui program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis dan pembangunan infrastruktur.
Meskipun variabel produksi meningkat, variabel persediaan produk justru mengalami kontraksi ke angka 49,18, yang menunjukkan bahwa pelaku usaha sengaja menahan stok barang di gudang. Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian pengusaha dalam membaca kebijakan pemerintah dan dinamika makroekonomi sebelum mendistribusikan barang ke pasar.
Kinerja positif ini didukung oleh 22 dari 23 subsektor industri yang berada dalam fase ekspansi, serta realisasi investasi baru sepanjang semester I/2026 yang mencapai Rp157,6 triliun. Stabilitas nilai tukar rupiah juga dinilai memberikan kepastian bagi perencanaan bisnis dan rantai pasok industri di masa depan.
