Bos PalmCo Sebut Program B50 Dorong Inovasi Minyak Nabati

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisnasantoso saat berbicara dalam Pekan Riset Sawit Indonesia.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Krisnasantoso membahas dampak program biodiesel B50 bagi industri sawit nasional.

Jakarta – Implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 diproyeksikan akan memicu lonjakan harga crude palm oil (CPO) di pasar domestik seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku dalam negeri, sebagaimana disampaikan dalam Pekan Riset Sawit Indonesia pada Rabu (22/7/2026).

Dilansir dari Katadata, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisnasantoso, menyatakan bahwa program B50 diperkirakan akan menyerap tambahan pasokan CPO sebanyak 4 juta ton setiap tahunnya.

Baca Juga

Pengurangan volume ekspor akibat terserapnya produksi untuk kebutuhan biodiesel dalam negeri tersebut diprediksi akan menjadi katalis utama dalam mengerek harga komoditas sawit nasional.

Meskipun kenaikan harga ini memberikan keuntungan langsung bagi petani dan pelaku usaha, para pemangku kepentingan industri diingatkan agar mewaspadai risiko jangka panjang berupa meningkatnya daya saing minyak nabati dari negara-negara subtropis.

Jatmiko menyoroti bahwa negara-negara tersebut saat ini semakin agresif dalam mengembangkan minyak nabati alternatif seperti rapeseed atau canola oil yang memiliki karakteristik kimiawi serupa dengan CPO.

Data menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi minyak rapeseed dunia mencapai hampir 10 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jauh melampaui pertumbuhan CPO yang hanya berada di angka 0,52 persen.

“Kalau harga kita dorong naik, semakin kuatlah stimulus buat teman-teman negara subtropik untuk mengembangkan rapeseed,” kata Jatmiko.

Ia menegaskan bahwa peningkatan harga CPO tidak boleh membuat industri sawit nasional menjadi lengah terhadap ancaman substitusi komoditas di pasar global.

Kondisi pasar yang menguntungkan saat ini dinilai dapat menjadi titik balik yang merugikan jika negara pesaing berhasil mengoptimalkan produksi minyak alternatif secara lebih masif.

“Jadi, peningkatan harga CPO sangat bagus sekali buat para petani kita dan juga para pengusaha, namun dalam jangka panjang ini justru bisa menjadi titik balik buat kita semua,” kata Jatmiko.

Sebagai perbandingan, ia mengingatkan kembali sejarah industri gula Indonesia yang dahulu menjadi komoditas ekspor unggulan namun kini justru terpaksa bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Strategi untuk menjaga daya saing industri sawit di masa depan harus difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan, terutama pada sektor perkebunan rakyat yang saat ini masih tertinggal.

Data menunjukkan produktivitas kebun rakyat hanya mencapai 3,27 ton per hektare, sementara perkebunan swasta mencapai 3,79 ton dan perkebunan negara mampu menghasilkan 4,37 ton per hektare.

Peningkatan produktivitas kebun rakyat sebesar 1 ton per hektare saja diyakini mampu menghasilkan tambahan 6 juta ton CPO nasional.

“Seandainya 1 ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6 juta ton,” ujar Jatmiko.

Tambahan pasokan tersebut dinilai cukup strategis untuk memenuhi kebutuhan program biodiesel sekaligus mempertahankan volume ekspor sawit Indonesia ke pasar internasional.

Upaya peningkatan produktivitas ini harus dilakukan melalui pendekatan terintegrasi, mulai dari penggunaan bibit unggul bersertifikat hingga penguatan kelembagaan petani di tingkat daerah.

Penerapan riset yang berorientasi pada kebutuhan industri serta percepatan diseminasi teknologi penelitian menjadi kunci utama agar produktivitas lahan tidak hanya mengandalkan perluasan wilayah perkebunan.

Ringkasan

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Krisnasantoso, menyatakan bahwa implementasi mandatori biodiesel B50 diproyeksikan akan meningkatkan harga CPO domestik karena penyerapan pasokan sebesar 4 juta ton per tahun, sebagaimana disampaikan dalam Pekan Riset Sawit Indonesia pada Rabu (22/7/2026).

Kenaikan harga tersebut di satu sisi menguntungkan petani dan pengusaha, namun di sisi lain berisiko memicu negara-negara subtropis untuk lebih agresif mengembangkan minyak nabati alternatif seperti rapeseed yang pertumbuhannya kini melampaui produksi CPO.

Untuk menjaga daya saing di pasar global, Jatmiko menekankan pentingnya peningkatan produktivitas lahan sawit masyarakat melalui penggunaan bibit unggul dan teknologi agar dapat memenuhi kebutuhan biodiesel nasional tanpa harus mengorbankan volume ekspor.

Rekomendasi