Jakarta – Bursa Efek Indonesia menyatakan kesiapan mereka dalam menyambut rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara yang tengah menyiapkan gelombang penawaran umum perdana saham bagi sejumlah badan usaha milik negara beraset jumbo, Jumat (7/8/2026).
Dilansir dari Katadata, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyebut bahwa pencatatan saham perusahaan-perusahaan pelat merah dengan fundamental kuat akan memberikan lebih banyak opsi bagi investor dalam menempatkan modal di pasar saham domestik.
Pihak otoritas bursa pun telah memberikan respons positif terhadap wacana tersebut mengingat potensi dampak signifikan bagi kedalaman pasar modal nasional.
Hingga saat ini, Otoritas Jasa Keuangan belum memberikan keterangan resmi terkait progres maupun status pengajuan rencana aksi korporasi tersebut meskipun telah dimintai konfirmasi.
Chief Operating Officer Danantara yang juga menjabat sebagai Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan-perusahaan negara.
Menurut Dony, semakin banyak perusahaan besar yang melantai di bursa, maka kapitalisasi pasar serta pilihan instrumen investasi bagi masyarakat akan semakin meningkat.
Beberapa perusahaan yang disebut memiliki potensi besar untuk masuk ke bursa antara lain Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, hingga Angkasa Pura Indonesia.
“Banyak sekali perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti,” kata Dony.
Agenda penawaran umum perdana ini merupakan bagian dari peta jalan transformasi yang disusun oleh Danantara untuk lima tahun ke depan.
Pada fase awal, lembaga tersebut akan memfokuskan diri pada proses konsolidasi serta restrukturisasi terhadap lebih dari 1.000 perusahaan yang berada di bawah pengelolaannya.
Data bursa mencatat bahwa hingga akhir Juli 2026, sebanyak tujuh perusahaan telah berhasil mencatatkan saham perdana dengan total perolehan dana mencapai Rp 2,16 triliun.
Saat ini, masih terdapat empat perusahaan yang berada dalam antrean penawaran umum, yakni dua perusahaan sektor kesehatan, satu perusahaan konsumer nonsiklikal, dan satu perusahaan industri.
Di sisi lain, pasar efek bersifat utang dan sukuk telah mencatatkan 115 emisi dari 62 penerbit dengan total nilai penghimpunan dana sebesar Rp 104,11 triliun.
Selain itu, terdapat 15 emisi dari 11 calon penerbit yang saat ini masih berada dalam daftar tunggu atau pipeline pihak bursa.
Ringkasan
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan kesiapan menyambut rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk membawa sejumlah BUMN beraset jumbo melantai di bursa melalui penawaran umum perdana (IPO) pada Jumat (7/8/2026). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi transformasi lima tahun Danantara untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kapitalisasi pasar modal nasional.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menilai kehadiran perusahaan pelat merah dengan fundamental kuat akan menambah opsi bagi investor, sementara Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyebut perusahaan seperti Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura Indonesia memiliki potensi besar untuk go public.
Agenda IPO BUMN ini merupakan bagian dari peta jalan jangka panjang yang diawali dengan proses konsolidasi serta restrukturisasi lebih dari 1.000 perusahaan di bawah kelolaan Danantara. Hingga akhir Juli 2026, BEI mencatat perolehan dana IPO sebesar Rp 2,16 triliun dari tujuh perusahaan, di tengah masih tertundanya keterangan resmi dari Otoritas Jasa Keuangan terkait status pengajuan aksi korporasi tersebut.
