Blok Masela Masuki Babak Baru Pengembangan Proyek Strategis

Suasana seremoni peletakan batu pertama proyek strategis nasional Blok Masela di Maluku Utara.
Prosesi peletakan batu pertama proyek gas Blok Masela resmi dimulai di Maluku Utara pada Kamis (17/7/2026).

Maluku Utara – Proyek Abadi Blok Masela akhirnya memasuki fase konstruksi fisik melalui seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Kamis (17/7/2026) untuk merealisasikan salah satu proyek strategis nasional di sektor minyak dan gas bumi.

Dilansir dari Katadata, langkah ini menandai titik balik penting setelah hampir tiga dekade penantian panjang sejak kontrak awal ditandatangani guna mengelola cadangan gas raksasa di Laut Arafura.

Baca Juga

Pemerintah menaruh harapan besar pada proyek senilai US$20 miliar tersebut untuk menggerakkan ekonomi regional sekaligus memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat.

Perjalanan panjang proyek ini dimulai pada 16 November 1998 saat pemerintah Indonesia meneken kontrak bagi hasil dengan Inpex Masela Ltd. sebagai operator tunggal.

Penemuan cadangan gas di Lapangan Abadi pada tahun 2000 sempat memicu perdebatan panjang mengenai metode pengembangan antara fasilitas kilang terapung atau pembangunan kilang di darat.

Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan pembangunan harus dilakukan di darat pada Maret 2016 demi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi wilayah Indonesia Timur.

Dinamika proyek semakin kompleks ketika mitra utama, Shell Upstream Overseas Services, memutuskan untuk hengkang dari konsorsium pada tahun 2020 di tengah tantangan pandemi.

Posisi tersebut kemudian diisi oleh PT Pertamina Hulu Energi dan Petronas Masela Sdn. Bhd. yang masuk sebagai mitra baru dalam proyek tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sempat memberikan peringatan tegas kepada operator agar segera mempercepat realisasi proyek sebelum masa konsesi berakhir.

Fasilitas ini dirancang untuk memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun serta memberikan pasokan gas untuk kebutuhan domestik dan industri hilir.

Proyek ini juga mencatatkan sejarah baru sebagai inisiatif LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage sejak tahap awal pengembangan.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan bahwa proses tender paket utama telah dipercepat guna menjadi landasan bagi penentuan keputusan investasi final pada akhir tahun nanti.

Strategi hilirisasi gas bumi ini diharapkan mampu menumbuhkan industri baru seperti pabrik pupuk dan produksi blue ammonia di sekitar kawasan pengembangan.

Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menyebut bahwa Blok Masela berpotensi menyumbang hingga 15 persen dari total produksi gas nasional di masa depan.

Namun, ekonom CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengingatkan bahwa keberhasilan komersial proyek masih sangat bergantung pada kepastian kontrak pembelian gas jangka panjang.

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa menyoroti bahwa efektivitas teknologi penangkapan karbon di lapangan ini nantinya harus dibuktikan secara nyata saat operasional dimulai.

Pemerintah menargetkan alokasi sekitar 60 persen produksi gas akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik demi mendukung ketahanan energi nasional.

Keberhasilan proyek ini kini menjadi pertaruhan bagi semua pemangku kepentingan untuk memastikan gas dari Laut Arafura benar-benar mengalir tepat waktu ke sektor industri dan rumah tangga.

Ringkasan

Proyek strategis nasional Blok Masela resmi memasuki fase konstruksi fisik melalui seremoni peletakan batu pertama di Maluku Utara pada Kamis (17/7/2026), sebagai upaya pemerintah untuk merealisasikan pengelolaan cadangan gas raksasa di Laut Arafura guna memperkuat ketahanan energi nasional.

Proyek bernilai US$20 miliar yang dikelola oleh konsorsium Inpex Masela Ltd., PT Pertamina Hulu Energi, dan Petronas Masela Sdn. Bhd. ini ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta menjadi inisiatif pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage sejak tahap awal.

Setelah penantian panjang sejak 1998 dan dinamika pergantian mitra konsorsium, pemerintah kini memprioritaskan 60 persen produksi gas untuk kebutuhan domestik serta hilirisasi industri seperti pupuk dan blue ammonia untuk memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.

Rekomendasi