Jakarta – PT Bank Amar Indonesia Tbk mulai memperluas lini bisnisnya dengan merambah sektor ekonomi kreatif melalui penyaluran pembiayaan khusus bagi industri perfilman nasional, Kamis (23/7/2026).
Dilansir dari Katadata, langkah strategis ini diambil menyusul pertumbuhan positif sektor perfilman di Indonesia yang dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan bagi portofolio perbankan.
Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane, menyatakan bahwa industri film nasional telah menunjukkan tren perkembangan yang signifikan sejak masa pandemi Covid-19 berakhir.
Pihak bank menilai sektor ekonomi kreatif secara keseluruhan memiliki potensi yang sangat besar, dengan catatan kontribusi Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka Rp 1,757 triliun.
Data internal menunjukkan bahwa sekitar 30% dari total nilai ekonomi kreatif tersebut disumbangkan oleh industri perfilman yang menjadi fokus utama ekspansi pembiayaan perseroan saat ini.
Meskipun potensi pasarnya terbuka lebar, Josua mengakui bahwa akses pembiayaan dari lembaga perbankan konvensional bagi para pelaku industri film masih tergolong sangat terbatas hingga saat ini.
Amar Bank memilih untuk tidak menetapkan target penyaluran pembiayaan tahunan secara spesifik karena prioritas utama saat ini adalah membangun ekosistem kredit yang lebih inklusif dan terstruktur.
Perseroan sedang fokus menata sistem agar arus kas pelaku industri kreatif dapat terukur, nilai agunan dapat diverifikasi, serta profil risiko debitur lebih mudah dianalisis oleh pihak bank.
Amar Bank sebenarnya sudah mulai menyalurkan pembiayaan kepada individu maupun rumah produksi di industri film sejak tahun 2022 melalui segmen UMKM.
Skema yang diterapkan meliputi purchase order financing dan pembiayaan piutang usaha dengan nilai plafon maksimal mencapai Rp 5 miliar untuk setiap debitur.
Melalui skema tersebut, pihak bank dapat memberikan dukungan pendanaan hingga mencapai 60% dari total nilai kontrak yang dimiliki oleh pelaku usaha perfilman.
Selain memberikan modal, bank juga menyediakan platform edukasi bertajuk Amar Bank Business untuk meningkatkan literasi keuangan para calon debitur sebelum mengajukan pinjaman.
Platform tersebut berisi modul pembelajaran mengenai pengelolaan modal kerja, perencanaan kebutuhan pendanaan, dan pemahaman mendalam mengenai kelayakan kredit perbankan.
“Kita minta dia belajar cari di situ, hitung sendiri,” kata Josua.
Industri film hanyalah langkah awal bagi Amar Bank dalam menggarap sektor ekonomi kreatif secara lebih luas di masa depan.
Perseroan berencana untuk menerapkan model pembiayaan serupa ke berbagai subsektor ekonomi kreatif lainnya yang memiliki karakteristik profil risiko yang sejalan dengan strategi bisnis bank.
Amar Bank juga telah melakukan berbagai upaya ekspansi lain, termasuk membidik sektor pertanian dan pemilik warung melalui skema embedded banking.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk merespons dinamika pasar keuangan serta memenuhi ekspektasi regulator terkait pengembangan segmen kredit produktif.
Ringkasan
PT Bank Amar Indonesia Tbk mulai memperluas lini bisnisnya dengan menyalurkan pembiayaan khusus bagi industri perfilman nasional di Jakarta pada Kamis (23/7/2026) untuk merespons pertumbuhan positif dan potensi ekonomi kreatif yang menjanjikan.
Langkah strategis ini dilakukan karena industri film dinilai memiliki kontribusi besar, yakni sekitar 30% dari total nilai ekonomi kreatif Indonesia yang mencapai Rp 1,757 triliun pada tahun 2025, meskipun akses pembiayaan perbankan bagi sektor ini masih terbatas.
Untuk mendukung hal tersebut, Amar Bank menerapkan skema purchase order financing dan pembiayaan piutang dengan plafon hingga Rp 5 miliar, serta membekali pelaku industri dengan edukasi manajemen keuangan melalui platform Amar Bank Business guna membangun ekosistem kredit yang inklusif.
