Air Laut Jadi Pendingin Alami Indonesia Di Era Panas

Jakarta, Bisnistalk.com – Lonjakan kebutuhan pendinginan di dunia membuat air laut dalam kembali dilirik sebagai sumber solusi, dan Indonesia dinilai memiliki modal alam yang jarang dibahas secara serius.

Di beberapa wilayah pesisir seperti Bali, Sulawesi Utara, Maluku, hingga Nusa Tenggara, laut dalam berada relatif dekat dari garis pantai.

Kondisi ini menjadi salah satu prasyarat utama bagi pengembangan Sea Water Air Conditioning (SWAC), teknologi pendinginan yang memanfaatkan suhu dingin air laut untuk menggantikan sebagian beban kerja sistem pendingin konvensional.

SWAC bekerja dengan cara memompa air laut dingin dari kedalaman tertentu ke darat, lalu mengalirkannya ke penukar panas atau heat exchanger.

Pada tahap ini, dingin dari air laut digunakan untuk mendinginkan air yang bersirkulasi di dalam sistem pendingin gedung. Setelah proses pertukaran panas selesai, air laut dikembalikan lagi ke laut. Yang dimanfaatkan bukan air lautnya sebagai komponen utama, melainkan suhu rendah yang dibawanya dari kedalaman.

Teknologi ini pertama kali dikembangkan di Hawaii Ocean Science and Technology Park yang dikelola Natural Energy Laboratory of Hawaii Authority (Nelha).

“Sistem serupa kini telah digunakan di berbagai belahan dunia, termasuk Swedia, Belanda, Kanada, dan New York,” demikian dikutip dari situs Nelha, Senin (29/6).

Sejumlah studi juga menunjukkan SWAC mampu memangkas konsumsi listrik untuk pendinginan hingga 80-90 persen dibandingkan sistem pendingin konvensional.

Pendekatan berbasis air laut tersebut tidak hanya menarik untuk gedung-gedung besar. Industri pusat data juga mulai meliriknya karena kebutuhan pendinginan yang sangat tinggi. Microsoft pernah menjalankan Project Natick, yakni eksperimen menempatkan pusat data di dasar laut. Dalam proyek itu, kapsul berisi 864 server ditempatkan di dasar Laut Utara selama dua tahun.

Hasil eksperimen tersebut menunjukkan bahwa air laut bisa menjadi pendingin yang efektif. Tingkat kegagalan server di dasar laut juga disebut jauh lebih rendah dibandingkan pusat data di daratan.

Meski demikian, proyek itu tidak dilanjutkan karena biaya yang tinggi dan proses penggantian komponen yang rumit. Dengan kata lain, gagasan “menenggelamkan” pusat data belum dinilai layak secara komersial, tetapi eksperimen itu membuktikan laut menyimpan potensi besar sebagai sumber pendinginan.

Di Indonesia, potensi itu beririsan dengan agenda energi laut yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan Ocean Thermal Energy Conversion atau OTEC.

Teknologi ini memanfaatkan perbedaan suhu antara permukaan laut dan laut dalam untuk menghasilkan listrik. Kementerian ESDM melalui sejumlah kajian potensi energi laut menyebut Indonesia memiliki potensi OTEC sekitar 41 gigawatt yang tersebar di sedikitnya 17 lokasi.

Sejumlah kajian akademik, termasuk dari Institut Teknologi Bandung (ITB), juga menunjukkan kawasan seperti Laut Banda memiliki perbedaan suhu permukaan dan laut dalam yang mendukung pengembangan teknologi tersebut.

Namun, pemanfaatan air laut untuk pendinginan belum dibahas secara khusus dalam strategi pemerintah untuk mengantisipasi naiknya kebutuhan pendinginan.

Pada 2024, pemerintah Indonesia bersama UNESCAP, UNEP, dan Cool Coalition meluncurkan Indonesia National Cooling Action Plan (I-NCAP). Dokumen ini memuat berbagai strategi untuk mengendalikan konsumsi energi untuk pendinginan.

Jika diterapkan, konsumsi listrik untuk pendinginan diperkirakan dapat ditekan hingga 57 persen pada 2040 dibandingkan skenario business as usual. Emisi gas rumah kaca juga diproyeksikan turun sekitar 55 persen. Meski begitu, strategi dalam I-NCAP sejauh ini masih berfokus pada efisiensi AC, desain bangunan yang lebih sejuk, serta penggunaan refrigeran rendah emisi.

Tekanan untuk mencari solusi pendinginan baru makin besar seiring meningkatnya suhu global. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan listrik dunia akan tumbuh rata-rata 3,6 persen per tahun hingga 2030, salah satunya karena penggunaan pendingin ruangan yang terus naik.

Pada 2024, ketika dunia mencatat tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern, permintaan listrik global melonjak sekitar 4,4 persen dan salah satu pemicunya adalah penggunaan AC.

Dalam laporan Global Cooling Watch 2025, United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan kebutuhan pendinginan dunia dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat pada 2050 jika dunia tetap menjalankan skenario business as usual alias tanpa langkah mitigasi.

Emisi dari sektor pendinginan diperkirakan melonjak menjadi sekitar 7,2 miliar ton karbon dioksida, sementara sistem kelistrikan berpotensi mengalami tekanan besar akibat beban puncak yang terus naik.

Peningkatan kebutuhan pendinginan tidak hanya dipicu pemanasan global, tetapi juga ledakan penggunaan kecerdasan buatan atau AI. Pusat data yang menopang layanan digital dan AI memerlukan pendinginan intensif, sementara banyak fasilitas masih bergantung pada cooling tower yang tetap membutuhkan air untuk membantu membuang panas.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan pada cadangan air tanah di lokasi-lokasi pusat data.

Di tengah pencarian global terhadap teknologi pendinginan yang lebih hemat energi dan air, Indonesia kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: apakah potensi air laut dalam akan mulai dipetakan sebagai bagian dari strategi menghadapi “normal baru” suhu panas yang kian menyengat?

Rekomendasi