Jakarta – PT Bumi Etam Chemical resmi menargetkan operasional penuh proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kalimantan Timur pada tahun 2030, dengan tahapan komisioning yang dijadwalkan mulai berlangsung pada 2029.
Dilansir dari Katadata, perusahaan ini merupakan entitas patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal yang berkolaborasi dengan PT Istana Karang Laut serta China National Chemical Engineering Co., Ltd.
Proyek strategis ini diproyeksikan mampu memproduksi metanol sebanyak 2 juta ton per tahun pada awal masa operasional komersialnya, sebagaimana disampaikan oleh Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical, Rio Supin, dalam acara penandatanganan kontrak teknis pada Kamis (30/7/2026).
Fasilitas pengolahan ini dibangun sebagai bentuk pemenuhan kewajiban peningkatan nilai tambah batu bara yang diwajibkan kepada pemegang izin usaha pertambangan terkait.
Strategi hilirisasi ini bertujuan untuk mengonversi batu bara menjadi bahan baku utama bagi sektor petrokimia, manufaktur, dan industri energi nasional.
Pengembangan proyek yang menelan investasi sekitar US$ 2,3 miliar atau setara dengan Rp 41,5 triliun ini akan berlokasi di Batuta Chemical Industrial Park, Kabupaten Kutai Timur.
Langkah nyata tersebut dimulai dengan penandatanganan kontrak perencanaan teknis awal serta kesepakatan pengadaan dan pembangunan fasilitas fisik.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan inisiatif ini sebagai Proyek Strategis Nasional melalui regulasi yang diterbitkan oleh Menko Perekonomian pada 2023.
Dalam rencana jangka panjangnya, kapasitas produksi fasilitas ini ditargetkan dapat mencapai angka maksimal hingga 3,6 juta ton metanol per tahun.
Proses produksi ini direncanakan memanfaatkan batu bara berkalori rendah dengan spesifikasi 3.300 kcal/kg GAR sebagai bahan baku utama.
Selain metanol, fasilitas ini juga akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat untuk kebutuhan industri terkait.
Pemilihan metanol sebagai fokus utama didasari oleh kebutuhan mendesak untuk mensubstitusi impor yang selama ini mendominasi pasar dalam negeri.
Data mencatat bahwa Indonesia setidaknya membutuhkan 1,9 juta ton metanol pada 2025, di mana sekitar 68% di antaranya masih harus dipenuhi melalui impor.
Ketergantungan terhadap produk luar negeri ini membebani devisa negara hingga mencapai Rp 7,1 triliun setiap tahunnya.
Rio menyatakan bahwa situasi geopolitik global saat ini telah memicu kenaikan harga metanol di pasar internasional, sehingga memperparah tekanan pada neraca perdagangan Indonesia.
Peningkatan kebutuhan metanol di masa depan juga dipicu oleh kewajiban penerapan kebijakan biodiesel 50% atau B50 yang mulai berlaku di Indonesia.
Metanol merupakan komponen krusial dalam proses pembuatan biodiesel, sehingga permintaan domestik diprediksi akan terus meningkat seiring dengan target transisi energi.
Perusahaan saat ini telah menjajaki kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli domestik untuk memastikan penyerapan produk setelah pabrik beroperasi.
Pihak manajemen PT Bumi Etam Chemical berkomitmen untuk memprioritaskan pemenuhan pasar dalam negeri sebelum mempertimbangkan potensi ekspor ke luar negeri.
Proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam kemandirian industri bahan baku kimia nasional di masa depan.
Ringkasan
PT Bumi Etam Chemical menargetkan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Batuta Chemical Industrial Park, Kutai Timur, beroperasi penuh pada tahun 2030 untuk memenuhi kebutuhan industri domestik dan menekan angka impor. Proyek strategis nasional senilai US$ 2,3 miliar ini dijadwalkan memulai tahap komisioning pada 2029 dengan kapasitas produksi awal mencapai 2 juta ton metanol per tahun.
Fasilitas ini akan mengolah batu bara berkalori rendah menjadi metanol yang menjadi komponen krusial dalam produksi biodiesel B50 serta bahan baku sektor petrokimia. Langkah ini diambil sebagai respons atas ketergantungan impor metanol yang membebani devisa negara hingga Rp 7,1 triliun per tahun serta antisipasi terhadap fluktuasi harga di pasar global.
Proyek hasil kolaborasi antara PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, PT Istana Karang Laut, dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. ini nantinya diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 3,6 juta ton metanol per tahun. Seluruh hasil produksi diprioritaskan untuk menyuplai kebutuhan pasar dalam negeri guna mendukung kemandirian industri kimia nasional.
