Jakarta – Pemerintah Indonesia telah menyiagakan 240 bendungan di berbagai wilayah untuk menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena Super El Nino yang diprediksi datang lebih cepat pada Rabu (29/7/2026).
Dilansir dari Katadata, Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah, Kurnia Ramadhana, menyatakan bahwa keberadaan infrastruktur air tersebut menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan iklim.
Bendungan-bendungan ini berfungsi untuk mengurangi ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan agar produktivitas tetap terjaga meskipun musim kemarau melanda.
Pemerintah saat ini juga terus melanjutkan pembangunan 15 bendungan baru yang masuk dalam proyek strategis nasional dengan total kebutuhan anggaran mencapai Rp 32,8 triliun.
Data dari Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa 240 bendungan yang sudah beroperasi saat ini memiliki total kapasitas tampungan air sebesar 9,74 miliar meter kubik.
Selain bendungan, pemerintah telah menyediakan infrastruktur pendukung ketahanan air lainnya yang mencakup berbagai fasilitas penting:
- Terdapat 601 situ dan danau dengan total volume tampungan mencapai 135,59 miliar meter kubik.
- Pemerintah mengoperasikan 1.034 tampungan air baku dengan kapasitas 435,67 juta meter kubik.
- Tersedia 10.789 sumur bor yang memiliki kapasitas aliran sebesar 114,8 ribu meter kubik per detik.
Beberapa proyek bendungan yang ditargetkan rampung pada tahun 2026 antara lain Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo dan Bendungan Jragung di Jawa Tengah.
Pembangunan bendungan lainnya akan terus berlanjut hingga 2029, meliputi Bendungan Budong-budong, Mbai, Way Apu, Cibeet, Cijurey, Jenelata, Bagong, Bener, Cabean, Karangnongko, Manikin, dan Riam Kiwa.
Bendungan Jenelata di Sulawesi Selatan tercatat memiliki kapasitas tampung yang sangat besar, yakni mencapai 223,6 juta meter kubik air.
Bendungan Tiga Dihaji di Sumatra Selatan dan Bendungan Cibeet di Jawa Barat juga menjadi bagian dari upaya memperkuat cadangan air nasional.
“Ketersediaan air baku menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi pertanian di Indonesia,” kata Kurnia.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menginstruksikan jajaran menteri untuk memitigasi dampak kekeringan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menjelaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah menjamin suplai air bersih dan mencegah kebakaran hutan serta lahan.
Pemerintah berencana melaksanakan operasi modifikasi cuaca bekerja sama dengan BMKG guna memastikan debit air di waduk tetap terjaga selama musim kemarau.
Langkah mitigasi kebakaran hutan juga dilakukan dengan menjaga kondisi lahan gambut agar tetap basah guna menekan munculnya titik api.
Ringkasan
Pemerintah Indonesia menyiagakan 240 bendungan di seluruh wilayah untuk mengantisipasi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena Super El Nino yang diprediksi akan melanda pada Rabu, 29 Juli 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis guna menjaga ketahanan pangan nasional dengan memastikan ketersediaan air baku bagi sektor pertanian tetap terjaga.
Ratusan bendungan yang telah beroperasi saat ini memiliki total kapasitas tampung sebesar 9,74 miliar meter kubik air. Selain bendungan, pemerintah juga mengoptimalkan infrastruktur pendukung lainnya seperti 601 situ dan danau, 1.034 tampungan air baku, serta 10.789 sumur bor untuk menekan dampak kekeringan.
Sebagai bagian dari proyek strategis nasional, pemerintah saat ini tengah melanjutkan pembangunan 15 bendungan baru dengan anggaran Rp 32,8 triliun. Selain pembangunan infrastruktur fisik, pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca bekerja sama dengan BMKG dan upaya mitigasi kebakaran hutan melalui pembasahan lahan gambut.
