Jakarta – Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Ardy Muawin, mengusulkan pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia pada Selasa (28/7/2026).
Dilansir dari Katadata, usulan tersebut disampaikan dalam forum diskusi bertajuk Katadata Policy Dialogue di Jakarta.
Ardy berargumen bahwa selama ini subsidi BBM dalam skala besar telah menopang industri otomotif konvensional selama bertahun-tahun.
Ia menyarankan agar anggaran ratusan triliun rupiah tersebut dialokasikan kembali untuk memberikan subsidi pada produksi baterai kendaraan listrik yang berbasis di dalam negeri.
Menurutnya, langkah ini diperlukan sebagai strategi kebijakan yang didukung oleh anchor project agar industri otomotif baru bisa mencapai keberlanjutan ekonomi.
Dukungan fiskal dari negara memang menjadi instrumen krusial dalam mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.
Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, Dimas Muhamad, menyoroti keberhasilan Cina dalam mendominasi rantai pasok global berkat dukungan dana mencapai Rp260 triliun per tahun.
Dana tersebut disalurkan melalui berbagai skema, mulai dari subsidi riset dan pengembangan, potongan pajak, hingga insentif langsung bagi konsumen dan pelaku usaha.
India juga menempuh jalur serupa dengan menyediakan anggaran sebesar Rp80 triliun setiap tahun untuk memperkuat kapasitas industri dalam negerinya.
Dimas menekankan bahwa intervensi negara dalam bentuk pembiayaan dan keberpihakan kebijakan sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Tujuan utama dari pemberian insentif ini bukan sekadar menguntungkan pihak korporasi, melainkan untuk membangun daya saing industri yang berkelanjutan.
Langkah strategis ini mencakup beberapa poin pengembangan industri yang sedang diupayakan pemerintah saat ini:
- Badan Pengelola Investasi Danantara sedang membidik peluang investasi pada sektor industri hulu panel surya.
- PT Indonesia Battery Corporation (IBC) kini mulai membuka peluang pengembangan baterai jenis sodium-ion dan solid state di dalam negeri.
- Pabrik baterai kendaraan listrik CATIB dijadwalkan akan segera diresmikan bertepatan dengan momen perayaan HUT RI pada bulan depan.
Keberhasilan transformasi industri hijau di Indonesia memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, sektor perbankan, pelaku industri, serta media massa. Sinergi antar pemangku kepentingan dianggap sebagai kunci utama dalam mewujudkan ekosistem kendaraan listrik yang mandiri dan kompetitif di pasar global.
Ringkasan
Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Ardy Muawin, mengusulkan pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM) untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dalam forum Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Ardy menyarankan agar anggaran subsidi BBM yang mencapai ratusan triliun rupiah dialokasikan kembali untuk mendukung produksi baterai kendaraan listrik domestik, guna menciptakan keberlanjutan ekonomi dan daya saing industri otomotif baru. Langkah ini didukung oleh Wakil Koordinator Sekretariat Satgas Percepatan Hilirisasi, Dimas Muhamad, yang mencontohkan keberhasilan Cina dan India dalam mendominasi rantai pasok global melalui intervensi fiskal yang masif.
Strategi pengembangan ini mencakup berbagai upaya pemerintah, termasuk investasi di sektor panel surya, pengembangan baterai jenis sodium-ion dan solid state oleh PT Indonesia Battery Corporation (IBC), serta peresmian pabrik baterai CATIB yang dijadwalkan pada perayaan HUT RI mendatang.
