Jakarta, Bisnistalk.com – Indonesia Investment Authority (INA) menegaskan belum akan mengubah strategi kepemilikan sahamnya di dua bank pelat merah besar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), meski pasar modal sedang bergejolak.
Di tengah tekanan volatilitas yang memengaruhi harga saham perbankan, INA menilai kedua emiten tersebut tetap menyimpan prospek jangka panjang yang kuat, terutama dari sisi pembagian dividen.
Chief Financial Officer INA Eddy Porwanto menjelaskan, saham Bank Mandiri dan BRI memang sejak awal menjadi bagian dari modal awal yang diterima INA ketika lembaga tersebut dibentuk.
Karena itu, hingga kini INA masih mempertahankan kepemilikan atas dua saham tersebut.
“Jadi, kalau kita melihat sejarahnya Bank Mandiri, BRI, sahamnya itu kan kita itu diberikan sebagai modal awal. Nah, sampai saat ini saham Bank Mandiri dan BRI itu masih kita simpan, kita pegang,” kata Eddy dalam media briefing di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, gejolak pasar modal memang ikut memengaruhi pergerakan harga saham Bank Mandiri dan BRI dalam jangka pendek.
Namun, kondisi itu tidak mengubah pandangan INA terhadap fundamental kedua bank tersebut. Eddy menyebut dividen yang dihasilkan keduanya tetap menjadi daya tarik utama bagi INA sebagai investor jangka panjang.
“Tapi kalau kita melihat sejak kita diberikan saham tersebut sampai hari ini dan ke depannya, kita percaya bahwa return daripada dividen daripada Bank Mandiri dan BRI itu sangat-sangat bagus,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa INA belum melihat urgensi untuk melepas kepemilikan saham di dua bank tersebut. Eddy menyampaikan, kondisi neraca INA masih solid dengan posisi kas yang kuat, sehingga lembaga itu masih memiliki ruang untuk mempertahankan portofolio yang ada.
INA juga menilai volatilitas yang terjadi di pasar saat ini bersifat sementara. Karena itu, lembaga tersebut tetap optimistis terhadap kinerja jangka panjang Bank Mandiri dan BRI, termasuk kemampuan keduanya menjaga kontribusi dividen.
“Jadi kita melihat volatilitas yang terjadi saat ini adalah untuk sementara waktu aja, gitu. Jadi kita percaya jangka panjang daripada Bank Mandiri dan BRI itu masih sangat-sangat bagus,” tutur dia.
Di sisi lain, Eddy menegaskan arah utama investasi INA tetap berada pada aset privat atau private assets yang bersifat jangka panjang. Menurut dia, karakter investasi INA memang dirancang untuk masuk ke sektor yang memberikan nilai tambah berkelanjutan, sehingga sumber daya yang dimiliki saat ini lebih banyak diarahkan ke portofolio tersebut.
“Jadi, fokus INA itu kan sebenarnya investasi di private assets dan sifatnya itu jangka panjang juga, gitu kan. Jadi itu mungkin dengan modal kita yang ada itu kita lebih banyak fokus di investasi di private assets,” kata dia.
Dengan komposisi strategi seperti itu, INA menempatkan saham Bank Mandiri dan BRI sebagai aset yang masih layak dipertahankan, sembari tetap membuka ruang bagi ekspansi investasi lain di luar sektor perbankan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa lembaga pengelola investasi tersebut masih menimbang stabilitas imbal hasil dan kekuatan fundamental perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan, ketimbang bereaksi terhadap fluktuasi harga pasar dalam jangka pendek.
