Batam – Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan Batam berkomitmen memperkuat infrastruktur kelistrikan dan pasokan air bersih sebagai langkah strategis mendukung ekspansi industri pusat data yang kini berkembang pesat di wilayah tersebut pada Rabu (29/7/2026).
Dilansir dari Katadata, komitmen tersebut ditegaskan oleh Wali Kota Batam Amsakar Achmad dalam acara penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik antara PT PLN Batam dan PT Altiva Identity Data Center di Auditorium Tanjung Kasam.
Transformasi ekonomi Batam saat ini menunjukkan pergeseran signifikan dari kawasan manufaktur konvensional menuju pusat investasi teknologi informasi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Jika sebelumnya didominasi sektor infrastruktur dan manufaktur perakitan, saat ini investasi mulai bergeser ke sektor teknologi informasi, termasuk industri data center yang berkembang pesat,” kata Amsakar.
Pemerintah daerah menjamin akan terus mempercepat serta mempermudah seluruh proses perizinan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di sektor berbasis teknologi tersebut.
Pemilihan Batam sebagai lokasi pusat data dinilai sangat tepat karena posisi geografisnya yang strategis di jalur pelayaran internasional Selat Malaka serta kedekatannya dengan Singapura.
Selain sektor pusat data, Batam juga tengah bersiap menyambut investasi dari kemitraan Firmus Technologies Australia bersama Nvidia untuk pengembangan fasilitas produksi Graphics Processing Unit yang ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan pertama tahun 2027.
Kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Batam tercermin melalui data statistik realisasi investasi yang menunjukkan peningkatan cukup tajam dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Realisasi investasi di Batam sepanjang Semester I 2026 mencapai Rp 29,89 triliun, angka tersebut tumbuh sebesar 62,75% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tidak hanya dari sisi nilai nominal, jumlah proyek investasi yang masuk ke Batam juga mengalami pertumbuhan mencapai 15.826 proyek atau naik 32,82% dibandingkan tahun lalu.
Meskipun terjadi pergeseran fokus investasi ke arah teknologi, sektor manufaktur tetap menjadi penopang utama perekonomian daerah dengan kontribusi berkisar antara 52% hingga 56% terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Batam.
Kualitas sumber daya manusia di wilayah ini juga terus mengalami peningkatan dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia yang menyentuh angka 83,8.
Angka tersebut menempatkan Batam sebagai daerah dengan indeks pembangunan tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau sekaligus masuk dalam jajaran lima besar di Pulau Sumatra.
Pemerintah setempat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga situasi yang kondusif agar daya tarik Batam sebagai destinasi investasi global tetap terjaga dengan baik.
“Kolaborasi seperti ini penting agar Batam semakin kokoh sebagai lokomotif investasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Amsakar.
Ringkasan
Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan Batam berkomitmen memperkuat infrastruktur listrik dan air untuk mendukung pertumbuhan industri pusat data di wilayah tersebut, yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli listrik antara PT PLN Batam dan PT Altiva Identity Data Center pada Rabu (29/7/2026).
Langkah ini dilakukan untuk mengakomodasi pergeseran ekonomi Batam dari sektor manufaktur konvensional menuju investasi berbasis teknologi informasi, didukung dengan jaminan kemudahan perizinan bagi investor asing.
Kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Batam tercermin melalui realisasi investasi pada Semester I 2026 yang mencapai Rp 29,89 triliun, meningkat 62,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat investasi strategis di jalur internasional.





