Bisnistalk.com, – Riau – PT Agrinas Palma Nusantara mengumumkan rencana strategis untuk menghidupkan kembali pabrik biodiesel di Rengat, Riau, yang memiliki kapasitas produksi signifikan sebesar 600 ribu ton. Langkah ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk mendukung program pemerintah dalam peningkatan penggunaan bahan bakar nabati.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menyatakan bahwa reaktivasi pabrik ini pada dasarnya adalah perbaikan terhadap fasilitas yang ada. Ghani merinci bahwa biaya perbaikan yang dibutuhkan tidak akan melebihi Rp 300 miliar, sebuah angka yang relatif terjangkau mengingat skala kapasitas pabrik.
Tahap uji kelayakan untuk reaktivasi pabrik tersebut telah selesai, dan perusahaan akan segera memulai proses tender. Target penyelesaian reaktivasi adalah akhir tahun depan, dengan harapan pabrik dapat segera beroperasi dan berkontribusi pada produksi biodiesel.
Ghani secara eksplisit menyebutkan bahwa keberadaan pabrik biodiesel yang kembali aktif ini akan menjadi penopang penting bagi implementasi program biodiesel 50% atau B50. Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari minyak nabati atau hewani, dirancang untuk menggantikan solar pada mesin diesel. Indonesia memang dijadwalkan untuk menerapkan campuran biodiesel B50 pada bulan ini.
Selain fokus pada reaktivasi pabrik biodiesel, Agrinas Palma Nusantara juga merencanakan ekspansi bisnis di lini energi terbarukan. Perusahaan memiliki ambisi untuk membangun fasilitas pengolahan singkong menjadi bioetanol pada tahun 2030.
Corporate Secretary Agrinas Palma Nusantara, Bambang Agustian, menjelaskan bahwa proyek pembangunan pabrik bioetanol ini masih dalam tahap persiapan awal. Untuk mewujudkan pembangunan tersebut, perusahaan perlu melakukan pembukaan lahan baru dan aktif mencari mitra investor yang bersedia bekerja sama dalam mendanai proyek ini.
Agustian menekankan pentingnya memiliki pabrik pengolahan untuk singkong. “Kalau kami produksi singkong saja tanpa ada pabriknya kan percuma, jadi kami sekarang sedang menggandeng investor,” ujar Agustian, menekankan kebutuhan akan hilirisasi produk pertanian ini.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengkonfirmasi kesiapan untuk mengimplementasikan program biodiesel 50% atau B50. Peresmian program ini direncanakan akan dilakukan pada awal Juli, namun tanggal pastinya masih menunggu jadwal Presiden.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan bahwa acara peresmian tidak akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juli, melainkan disesuaikan dengan jadwal kepresidenan. Implementasi B50 ini rencananya akan dimulai dari salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sebagai titik awal.
Anggia menambahkan bahwa setelah diresmikan oleh Presiden, penggunaan bahan bakar nabati ini akan langsung diterapkan secara serentak di seluruh SPBU di Indonesia. Pemerintah telah memastikan bahwa seluruh infrastruktur pendukung, baik di sektor hulu maupun hilir, termasuk SPBU dan lokasi pencampuran bahan bakar, sudah siap sepenuhnya.
“Semua sudah siap, termasuk untuk distribusinya sehingga kebijakan serentak Juli ini bisa langsung diimplementasikan sesuai dengan arahan Presiden,” tegas Anggia, meyakinkan kesiapan pemerintah.
Meskipun program B50 akan diluncurkan awal Juli, implementasinya dipastikan tidak akan bersamaan dengan penerapan kebijakan mandatory etanol 5% atau E5 dalam bahan bakar. Menurut Anggia, pemerintah masih dalam proses mempersiapkan seluruh aspek yang diperlukan untuk E5, terutama terkait pasokan etanol.
Anggia mengutip pernyataan Menteri ESDM yang menekankan pentingnya produksi etanol dalam negeri. “Menteri ESDM tidak mau nanti etanolnya impor lagi, jadi nanti produksi semuanya di dalam negeri,” ujarnya, menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk kemandirian bahan baku energi terbarukan.
