Wamen ESDM Sebut Transformasi Energi Indonesia Berada di Jalur yang Tepat

Pemerintah fokus pada peningkatan lifting minyak, hilirisasi, dan ketahanan energi.

Wamen ESDM Klaim Transformasi Energi RI Ada di Jalur Tepat

Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyatakan bahwa transformasi energi Indonesia saat ini berada di jalur yang tepat.

Pernyataan tersebut disampaikan Yuliot dalam acara Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto Tahun 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (23/10) malam.

“Transformasi energi Indonesia berjalan di jalur yang benar untuk menuju kedaulatan energi nasional, nilai tambah dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yuliot.

Capaian positif terlihat pada sektor minyak dan gas bumi yang berhasil melampaui target lifting minyak dalam APBN 2025.

Pemerintah mencatat realisasi lifting minyak sebesar 605,3 ribu barel per hari, melampaui target yang ditetapkan sebesar 605 ribu barel per hari.

Yuliot menyebut keberhasilan tersebut sebagai pencapaian yang cukup signifikan setelah sembilan tahun terakhir.

Pemerintah kini berupaya mengejar target peningkatan produksi menjadi 610 ribu barel per hari meskipun terdapat sejumlah kendala di lapangan.

“Tentu ini kami berupaya bersama-sama bagaimana target minimal yang sudah ditetapkan ini bisa kita capai secara bersama-sama,” tegasnya.

Indonesia juga telah merealisasikan program mandatori bahan bakar nabati biodiesel B50 pada Juli 2026 sebagai langkah diversifikasi energi.

Implementasi B50 berkontribusi mengurangi ketergantungan penggunaan minyak bumi sebanyak 310 ribu barel per hari dari total konsumsi nasional sebesar 1,6 juta barel.

Untuk menutupi sisa kebutuhan, pemerintah masih melakukan pengadaan bahan bakar minyak melalui impor baik berupa minyak mentah maupun produk jadi.

Di sektor ketenagalistrikan, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai angka 99,85 persen.

Pemerintah terus memperluas jaringan listrik agar seluruh desa di Indonesia mendapatkan akses energi yang memadai.

“Sehingga masyarakat tidak ada yang tidak merasakan bagaimana kemandirian energi, dan juga secara hak masyarakat itu bisa terpenuhi, ini merupakan bagian tanggung jawab negara untuk menyediakan energi bagi masyarakat,” tutur Yuliot.

Pemerintah saat ini tengah mendorong 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun.

Sebagian besar dari proyek strategis tersebut berlokasi di luar Pulau Jawa guna mendukung pemerataan ekonomi.

Yuliot mengakui bahwa tantangan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dan memperbaiki iklim investasi masih harus terus diperjuangkan.

“Kami menyadari bahwa pekerjaan kita masih jauh dari selesai,” pungkasnya.

Rekomendasi