Komunikasi transparan dan koordinasi lintas sektor dinilai kunci menjaga kepercayaan publik.
Jakarta – Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, badan usaha, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam memulihkan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Bali.
Sosiolog sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai sinergi tersebut efektif meredam kekhawatiran publik sekaligus mempercepat normalisasi pasokan energi.
Ia menekankan bahwa konsistensi arus informasi sangat vital dalam menjaga kepercayaan masyarakat di tengah dinamika pemenuhan energi.
“Hal yang tak kalah pentingnya adalah komunikasi yang konsisten dalam menjaga kepercayaan publik di tengah tantangan pemenuhan energi,” ujar Bagong dalam keterangan tertulisnya, Kamis (22/10/2026).
Bagong menambahkan bahwa keterbukaan informasi menjadi keharusan karena tingkat literasi digital masyarakat yang semakin tinggi.
“Lebih baik transparan karena masyarakat literasi informasinya makin kuat,” tegas Bagong.
Proses pemulihan distribusi dilakukan Pertamina Patra Niaga melalui penambahan pasokan, penguatan armada mobil tangki, serta optimalisasi jam operasional terminal BBM.
Penyaluran tambahan stok sebesar 57,9 juta liter, yang terdiri dari 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax, telah dilakukan secara bertahap.
Pasokan tersebut dikirim melalui Terminal BBM Manggis dan Terminal BBM Sanggaran dengan mengoptimalkan kedatangan kapal tanker pada 14-17 Oktober 2026.
Sebanyak 108 mobil tangki dengan 465 awak dikerahkan untuk melayani kebutuhan energi masyarakat selama 24 jam penuh.
Sebanyak 66 SPBU, yang tersebar di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, turut disiagakan beroperasi selama 24 jam untuk mempercepat antrean.
Koordinasi dengan Kodam IX/Udayana dan kepolisian juga dilakukan untuk menjamin kelancaran distribusi serta menindak aksi penimbunan.
Pemerintah Provinsi Bali bersama Pertamina menerapkan pembatasan pengisian BBM maksimal 20 liter untuk kendaraan roda empat dan 3 liter untuk roda dua.
Sistem ganjil genap juga diberlakukan di tingkat daerah guna mengurai kepadatan lalu lintas di area SPBU.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memutuskan untuk meningkatkan cadangan BBM di Bali dari 11 hari menjadi 15 hari.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi di Fuel Terminal Sanggaran, Denpasar, pada Senin (19/10/2026).
“Saya malah hari ini baru memerintahkan, memutuskan lewat Dirjen Migas dan BPH Migas, untuk menaikkan kuota yang tadinya 11 hari, saya naikin menjadi 15 hari,” ujar Bahlil.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa evaluasi terus dilakukan meski antrean di berbagai wilayah terpantau mulai melandai sejak Ahad (18/10/2026).
“Pemulihan ini merupakan hasil kerja bersama,” tambah Baron.
Pertamina berkomitmen untuk terus memantau stok terminal dan realisasi penyaluran agar kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi dengan andal.