Jakarta, Bisnistalk.com – Dua manajer hedge fund terkemuka di China kembali menyoroti euforia saham kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang meluas di pasar global.
Keduanya menilai reli yang terjadi belakangan ini telah mendorong valuasi ke level yang terlalu tinggi dan berisiko memicu koreksi besar dalam jangka panjang.
Wealspring Asset, perusahaan yang didirikan oleh Yang Dong, investor yang dikenal di China setelah tepat memprediksi puncak pasar pada 2007, menyebut saham-saham AI global sudah membentuk “super bubble” atau gelembung super.
Dalam surat kepada investor, perusahaan itu bahkan memperingatkan bahwa “titik kehancurannya mungkin sudah tidak lama lagi”.
Pernyataan tersebut dikutip dari Bloomberg, Sabtu (27/6). Dalam surat yang sama, Wealspring menilai pasar tengah berada pada fase yang mirip dengan periode euforia berlebihan, ketika investor cenderung membeli aset tanpa mempertimbangkan fundamental secara memadai.
Di sisi lain, Shanghai Banxia Investment Management Center menyatakan tanda-tanda awal pecahnya gelembung AI mulai terlihat.
Perusahaan itu menyoroti tekanan terhadap laju pertumbuhan pendapatan Anthropic PBC, salah satu perusahaan AI yang selama ini dipantau ketat oleh investor global.
Berdasarkan ringkasan pandangan sejumlah dana investasi yang disusun CSC Financial Co dan diperoleh Bloomberg, sedikitnya empat hedge fund China lainnya juga memilih bersikap hati-hati terhadap sektor AI pada Mei lalu.
Dalam ringkasan itu, hanya empat hedge fund yang menyampaikan pandangan positif terhadap AI, sementara tujuh lainnya belum mengambil posisi.
Surat kepada investor tersebut memberi gambaran bagaimana sejumlah pengelola dana besar di China membaca dinamika teknologi yang sedang menggerakkan pasar dunia.
Mereka tidak hanya melihat potensi pertumbuhan, tetapi juga risiko bahwa ekspektasi pasar telah melampaui kemampuan bisnis untuk mengejarnya.
Sepanjang tahun ini, saham-saham terkait AI memang melesat tajam. Sejumlah emiten, termasuk SK Hynix Inc dan Micron Technology Inc, mencatat kenaikan nilai lebih dari tiga kali lipat. Namun, reli tersebut juga disertai koreksi tajam karena investor mulai lebih berhati-hati menilai harga dan prospek keuntungan.
Wealspring, yang mengelola aset lebih dari USD 1,4 miliar, menilai banyak perusahaan infrastruktur AI di China tidak memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang.
Perusahaan itu juga menyebut model bisnis mereka “cukup biasa” dan sangat bergantung pada belanja modal berkelanjutan agar pertumbuhan tetap terjaga.
“Kami benar-benar tidak menyangka bahwa ledakan permintaan semata bisa diangkat sedemikian rupa hingga menghasilkan valuasi dan kapitalisasi pasar setinggi ini. Pada pasar bullish 2015, ada istilah ‘membeli tanpa berpikir’. Dan saat ini, kemungkinan besar kita kembali berada dalam kondisi yang serupa,” tulis perusahaan tersebut kepada para investornya.
Wealspring juga memperkirakan beberapa saham yang kini paling digemari di pasar domestik China berpotensi anjlok lebih dari 80 persen.
Meski begitu, perusahaan itu tidak menyebutkan emiten tertentu yang dianggap paling rentan terhadap aksi jual besar-besaran.
Banxia, yang mengelola aset lebih dari USD 294 juta, turut mengirim sinyal waspada dari luar China. Perusahaan itu memperkirakan laju pendapatan tahunan Anthropic, yang sering dijadikan indikator penting oleh investor AI, akan berada di bawah ekspektasi pasar.
Banxia menilai perusahaan-perusahaan teknologi besar kemungkinan mulai menahan diri terhadap kenaikan biaya token AI.
Selain itu, para pesaing Anthropic juga diperkirakan akan mengikis popularitas perusahaan tersebut di kalangan pengembang perangkat lunak.
Pandangan itu disampaikan Banxia dalam surat kepada investor. Sinyal kehati-hatian ini muncul di tengah pasar yang masih dibayangi perdebatan antara potensi pertumbuhan besar AI dan ancaman valuasi yang terlalu mahal.
Meski memilih tidak masuk terlalu agresif ke saham AI, kedua dana tersebut tetap menghadapi konsekuensi.
Dana Zhiyuan milik Wealspring dan dana macro low-volatility milik Banxia sama-sama membukukan kerugian kecil pada beberapa bulan pertama tahun ini, meskipun keduanya masih mencatat keuntungan dalam jangka panjang.
Indeks CSI Artificial Intelligence China telah naik lebih dari 35 persen sepanjang tahun ini, jauh melampaui kenaikan sekitar 5 persen pada indeks acuan utama.
Namun, performa tersebut masih tertinggal dibanding pasar lain. Indeks Kospi Korea Selatan, misalnya, melonjak hampir 100 persen berkat reli kuat saham SK Hynix dan Samsung Electronics Co.
Pendiri Banxia, Li Bei, tetap mempertahankan sikap waspada terhadap saham-saham AI. Ia mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengejar reli yang sedang berlangsung.
“Jika investor ingin mengalokasikan dana mereka untuk mengejar saham AI, meskipun Anda mungkin marah kepada saya karena mengatakan ini, saya tetap sangat menyarankan: berhati-hatilah, benar-benar berhati-hatilah,” ucap Bei.
Banxia menolak memberikan komentar lebih lanjut, sementara perwakilan Wealspring belum merespons permintaan komentar.
