Harga Minyak Dunia Bergerak Tipis Usai Melonjak Akibat Gangguan Pasokan Global

Koreksi harga terjadi setelah sempat mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Jakarta – Harga minyak mentah dunia bergerak tipis pada perdagangan Jumat (23/10) pagi setelah sempat melonjak 4 persen ke level tertinggi dalam lima bulan.

Harga minyak mentah Brent turun 21 sen atau 0,2 persen menjadi US$112,96 per barel pada pukul 00.30 GMT.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 27 sen atau 0,3 persen menjadi US$98,12 per barel.

Tren kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Pasar bereaksi setelah Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, wilayah Teluk yang berdekatan dengan Bahrain, pada Kamis (22/10).

Langkah tersebut diambil menyusul pertempuran intensif antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.

Konflik ini mengancam jalur pelayaran strategis di Bab el-Mandeb yang berada di mulut Laut Merah.

Gangguan pasokan juga terjadi di Libya akibat penutupan katup pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya.

Kepala National Oil Corporation Libya menyatakan kepada Reuters bahwa penutupan tersebut menyebabkan penurunan produksi dari kedua ladang minyak itu.

Di sisi lain, pasar memantau perkembangan geopolitik Rusia yang menyatakan siap melanjutkan pembicaraan dengan Ukraina pada bulan depan.

Pertemuan tersebut direncanakan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan utusan AS Steve Witkoff di St Petersburg pada Rabu (21/10).

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berharap negosiasi tersebut dapat terlaksana pada awal November.

“Jika terlaksana, pembicaraan itu akan menjadi yang pertama sejak Februari,” tulis laporan tersebut.

Data energi AS menempatkan Rusia sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Sanksi internasional terhadap Rusia pasca invasi ke Ukraina tahun 2022 terus memberikan tekanan pada pasokan energi global.

Rekomendasi