Bisnistalk.com, – Labuan Bajo – Dapur Tara di Desa Liang Ndara, kawasan Mbeliling, menjadi destinasi gastronomi yang mengintegrasikan kuliner lokal, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya bagi wisatawan pada Sabtu (25/5/2024).
Dilansir dari Katadata, pusat kuliner yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Labuan Bajo ini mengusung konsep edukasi untuk memperkenalkan sejarah serta filosofi hidup masyarakat Flores melalui setiap hidangan yang disajikan.
Pendiri Dapur Tara, Elizabeth Yani Tararubi atau Kak Lis, menyatakan bahwa tempat ini didirikan untuk memberikan pengalaman mengenal Flores secara lebih utuh kepada para pengunjung.
“Konsep yang diusung Dapur Tara adalah memanfaatkan bahan baku segar yang berasal dari kebun organik sendiri maupun dipasok langsung oleh petani di sekitar kawasan Mbeliling,” kata Kak Lis.
Bagi Kak Lis, makanan bukan sekadar santapan, melainkan media untuk menceritakan sejarah, budaya, serta hubungan masyarakat Flores dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dapur Tara menerapkan praktik pertanian berkelanjutan dengan memanen sayuran dan rempah sesuai kebutuhan guna menjaga kualitas serta membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Identitas tempat ini diperkuat dengan komitmen terhadap kelestarian lingkungan melalui penerapan konsep zero waste, pengelolaan limbah organik, serta penggunaan wadah makan berbahan bambu, rotan, dan tempurung kelapa.
Salah satu menu unggulan yang ditawarkan adalah Kolo, yaitu nasi khas Flores yang dimasak di dalam bambu menggunakan bara api untuk menghasilkan aroma yang khas.
Hidangan Kolo tersebut disajikan bersama ayam asap berbumbu tradisional, sayur Lomak dari daun ubi dan kelapa parut, serta aneka olahan hasil kebun lokal lainnya.
Wisatawan tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga dapat mengikuti kelas memasak tradisional untuk mempelajari teknik memasak menggunakan bambu dan mengenali berbagai rempah lokal.
Melalui konsep Flores Living, pengunjung diajak merasakan kehidupan masyarakat setempat secara lebih dekat mulai dari pemilihan bahan pangan hingga memahami filosofi di balik proses memasak.
Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan pengalaman wisata yang bermakna dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama dalam industri pariwisata.
Program pengembangan di Dapur Tara mendapatkan dukungan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui program Corporate Shared Value (CSV) Bakti BCA.
Bakti BCA bekerja sama dengan Dapur Tara menyelenggarakan lokakarya peningkatan keterampilan gastronomi bagi sembilan pengelola Desa Bakti BCA di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pelatihan tersebut mencakup pengembangan potensi kuliner lokal, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik memasak, hingga penyajian hidangan yang menarik bagi wisatawan.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan bahwa kuliner merupakan potensi besar yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa untuk menggerakkan ekonomi lokal.
“Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa,” kata Hera.
Menurut Hera, gastronomi yang utuh tidak hanya mengajarkan cara memasak, tetapi juga membangun pengalaman kuliner yang mampu memperkenalkan identitas daerah kepada wisatawan.
Bakti BCA secara konsisten mendampingi desa wisata melalui berbagai program, seperti peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan keuangan, rumah pangan hidup, serta revitalisasi kebun kopi.
Dapur Tara kini menjadi contoh bagaimana kuliner dapat berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat yang tumbuh secara berkelanjutan.
