DDMF kembangkan kerangka ukur baru untuk menilai kontribusi nyata investasi bagi Indonesia.
Jakarta – Keberhasilan investasi strategis di Indonesia kini tidak lagi sekadar diukur melalui keuntungan finansial, melainkan harus mencakup kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional.
Pendekatan tersebut menjadi inti pembahasan dalam forum Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 bertajuk “Beyond Financial Returns: Measuring the Development Impacts of Strategic Investment in Indonesia” di Jakarta.
Proyek strategis seperti infrastruktur, hilirisasi industri, energi, dan ketahanan pangan dinilai memiliki potensi manfaat jangka panjang meski tidak selalu memberikan imbal hasil komersial tinggi pada tahap awal.
Danantara Development Management Fund (DDMF) tengah mengembangkan kerangka pengukuran khusus untuk menilai dampak ekonomi dari investasi strategis tersebut.
Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund, M. Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa penilaian investasi pembangunan harus melampaui indikator pengembalian modal semata.
“Investasi pembangunan tidak cukup dinilai dari imbal hasil finansial,” ujar Rachmat melalui siaran pers pada Selasa (20/10/2026).
Ia menambahkan bahwa ukuran keberhasilan harus mencakup tambahan kapasitas produksi, ketersediaan pekerjaan berkualitas, penguatan inovasi, pemerataan manfaat antarwilayah, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.
“DDMF ingin memastikan setiap rupiah investasi dapat dipertanggungjawabkan melalui dampak yang nyata dan terukur bagi Indonesia,” tegas Rachmat.
Untuk mendukung inisiatif ini, DDMF mengembangkan Danantara Dynamic Modelling Framework dengan pendekatan Financial Computable General Equilibrium.
Model ekonomi struktural ini dirancang untuk memetakan dampak investasi dari waktu ke waktu guna menghindari penilaian yang hanya berfokus pada satu titik waktu saat proyek dimulai.
Analisis melalui kerangka tersebut mencakup berbagai variabel seperti pendapatan nasional, penciptaan lapangan kerja, penerimaan negara, serta pembentukan modal.
Selain aspek ekonomi, DDMF juga memperhatikan dinamika sumber pendanaan baik dari likuiditas domestik maupun modal internasional.
Lembaga ini menerapkan konsep catalytic capital untuk mengurangi risiko proyek sekaligus membuka peluang masuknya modal dari sektor swasta dan investor institusional.
Evaluasi proyek kini dibagi ke dalam tiga tahapan, yakni output jangka pendek, outcome jangka menengah, dan impact jangka panjang.
Indikator yang digunakan dalam evaluasi mencakup kemampuan inovasi, adopsi teknologi, hingga pengurangan emisi karbon.
Pengembangan kerangka pengukuran ini diharapkan mampu menjembatani kebutuhan keuntungan finansial dengan tujuan besar pembangunan nasional.
DDMF berkomitmen memastikan setiap investasi strategis yang mereka naungi dapat dievaluasi secara konsisten melalui metodologi yang transparan dan tata kelola yang akuntabel.