Hilirisasi Nikel Dongkrak Nilai Tambah Industri Indonesia hingga 642 Kali Lipat

Pengolahan bijih nikel menjadi bahan baku baterai berpotensi meningkatkan nilai tambah hingga 642 kali lipat.

Hilirisasi Mineral Kritis Buka Peluang Indonesia Kuasai Rantai Pasok Global

Jakarta – Hilirisasi mineral kritis menjadi strategi kunci Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah industri sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Pengolahan bijih nikel menjadi produk baterai tertentu berpotensi menghasilkan nilai tambah hingga 642 kali lipat dibandingkan saat masih berbentuk bahan mentah.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bijih nikel seharga 30 dolar AS per ton dapat melonjak menjadi 3.628 dolar AS per ton setelah diolah menjadi mixed hydroxide precipitate.

Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund, M Rachmat Kaimuddin, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan saja belum cukup untuk mengoptimalkan potensi ekonomi.

“Untuk memperoleh nilai tambah yang optimal dari mineral kritis, kapasitas pengolahan saja tidak cukup,” ujar Rachmat dalam siaran pers, Jumat (23/10/2026).

Rachmat menambahkan bahwa diperlukan investasi terkoordinasi, penguatan kemampuan domestik, serta rantai pasok tangguh yang mampu mendukung kegiatan manufaktur.

“Diperlukan investasi yang terkoordinasi, kemampuan domestik yang lebih kuat, rantai pasok yang tangguh, serta kemitraan yang mampu memobilisasi modal untuk pembiayaan pembangunan dan investasi swasta,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Rachmat saat menghadiri diskusi panel dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, pertengahan Oktober lalu.

Forum internasional itu membahas peluang negara berkembang untuk meraih manfaat ekonomi lebih besar melalui pengelolaan mineral kritis.

Data International Energy Agency menyebutkan sektor energi menyumbang 75 persen pertumbuhan permintaan mineral kritis utama pada 2025.

Indonesia memegang peran vital sebagai produsen nikel tambang terbesar dunia dengan kontribusi mencapai 62 persen terhadap total produksi global pada 2024.

Dewan Ekonomi Nasional memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia akan mencapai 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 45 persen dibandingkan nilai ekspor hilirisasi tahun 2024 yang sebesar 34,5 miliar dolar AS.

Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan baterai di Indonesia akan mencapai 108,2 gigawatt-jam pada 2030 untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Namun, terdapat selisih kebutuhan kapasitas sekitar 407 gigawatt-jam yang harus segera dipenuhi melalui pengembangan investasi di berbagai tahapan rantai pasok.

Pengembangan industri pengolahan yang disertai penguasaan teknologi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat nilai tambah di dalam negeri.

Rekomendasi