Investor global khawatir soal transparansi kepemilikan dan menuntut penegakan hukum tegas.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada Kamis (29/1/2026) pukul 09.30 WIB akibat tekanan jual yang masif.
IHSG sempat terperosok 492 poin atau ambles 5,91 persen ke level 7.828,47 pada sesi pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Koreksi tajam tersebut dipicu oleh sentimen negatif terkait transparansi struktur kepemilikan saham di pasar modal Indonesia.
Data perdagangan mencatat sebanyak 720 saham terkoreksi, 65 saham menguat, dan 22 saham stagnan.
Nilai transaksi harian mencapai Rp32,75 triliun dengan volume 42,91 miliar saham yang melibatkan 2,55 juta kali transaksi.
Tekanan pasar ini berkaitan dengan peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap investor global mengenai tata kelola pasar di Indonesia.
Managing Director MSCI, Raman Aylur Subramanian, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah indeks.
“Kasus Indonesia bukanlah masalah indeks, melainkan masalah pasar,” ujar Subramanian dalam sebuah panggilan konferensi.
Menurut Subramanian, reformasi mendesak harus dilakukan untuk menindak tegas pihak-pihak yang berperilaku buruk.
“Reformasi diperlukan untuk menyingkirkan pihak-pihak yang berperilaku buruk,” ungkap Subramanian.
Pemerintah Indonesia kini dituntut memperkuat penegakan hukum dan mengungkap kepemilikan saham yang tidak transparan sebelum tenggat waktu Juni 2027.
Otoritas pasar modal harus mampu menyelidiki perdagangan mencurigakan dan menjatuhkan sanksi tegas tanpa pandang bulu terhadap kelompok bisnis berpengaruh.
Indonesia menghadapi risiko penurunan status menjadi pasar mandiri yang dapat memicu arus keluar modal dalam jumlah besar.
Sepanjang tahun ini, investor global telah mencatatkan penjualan bersih saham lokal senilai 5,3 miliar dolar AS.
Angka tersebut diprediksi menjadi arus keluar modal terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah pasar saham Indonesia.